Senin, 23 November 2015

EKSTRAK DAUN MARKISA (Passiflora) DAN SABUN COLEK SEBAGAI INSEKTISIDA NABATI PEMBASMI HAMA KUTU PUTIH (Mealybag) YANG RAMAH LINGKUNGAN

BAB I
PENDAHULUAN
   A.            Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara yang terletak di daerah beriklim tropis dan mempunyai banyak kekayaan alam, baik berupa barang tambang, kekayaan laut, hasil hutan, peternakan, tanah yang subur, perkebunan dan pertanian. Dengan kondisi tanah yang subur dapat dimanfaatkan dalam mengembangkan berbagai macam budidaya tanaman pangan hingga tanaman hias. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia banyak membuka lahan untuk melestarikan kekayaan alam tersebut, khususnya dalam bidang pertanian dan budidaya tanaman hias. Sehingga Negara Indonesia merupakan salah satu negara Agraris. Sebgai negara Agraris, Indonesia memiliki jumlah penduduk relatif besar yang terdiri dari penduduk yang mayoritas bercocok tanam atau bertani dan ada juga sebagian masyarakat Indonesia yang terjun dalam usaha budidaya tanaman hias, karena kedua bidang usaha tersebut merupakan salah satu mata pencaharian yang cocok dengan keadaan alam Indonesia serta kemampuan masyarakat Indoesia yang pandai mengolah lahan pertanian maupun tanaman hais. Meskipun kemampuan tersebut  belum tentu dapat menghasilkan produk yang memiliki kualitas tinggi. Akan tetapi, kemahiran masyarakyat indonesia itu masih dapat dikembangkan. Hala yang terpenting adalah potensi alamnya yaitu lahan pertanian yang luas dan subur.
Salah satu daerah di Indonesia  yang identik dengan pertanian dan usaha budidaya tanaman hias adalah Kabupaten Probolinggo. Masyarakat Probolinggo menanam banyak jenis rempah-rempah dan bahan pada lahan pertaniannya. Bahkan daerah Kabupaten Probolinggo berpotensi dalam dalam pengembangan budidaya tanaman pangan dan tanaman hias. Kabupaten Probolinggo memiliki luas sekitar 1.696,166 km2, tepatnya pada 112051’ – 113030’ Bujur Timur dan 7040’ – 8010’ Lintang Selatan, yang berada pada ketinggian 0 – 2500 m dpl. Kawasan Probolinggo memiliki iklim tropis dengan kondisi tanah yang subur, sehingga potensi ini dimanfaatkan oleh masyarakat Probolinggo untuk membudidayakan berbagai macam tanaman pangan hingga tanamna hias. Tanaman pangan yang banyak dibudidayakan di daerah Kabupaten Probilinggo seprti padi, jagung, wortel, kentang, bawang merah dan lain-lain. Sedangkan tanaman hias yang banyak dibudidayakan adalah Palem, Kaktus, Anthurium, Euphorbia, Kamboja Jepang (Adenium) dan lain-lain. Akan tetapi, semua usaha tanaman pangan (pertanian) maupun tanaman hias membutuhkan biaya dan kesabaran. Dikatakan demikian karena harga bibit tanaman pangan seperti jagung, bawang merah, kentang dan bibit tanaman hias seperti bibit Kamboja Jepang sangat mahal dan juga perwatannya yang membutuhkan ketelatenan.
Selain itu juga berpotensi terserang oleh hama yang membutuhkan kesabaran dalam penanganannya serta biaya yang besar untuk membeli obat pembasminya. Hal ini yang menjadi masalah yang dihadapi para pengusaha budidaya tanaman pangan dan tanaman hias di Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo, sehingga menyebabkan produktifitas dan kualitasnya menurun. Dalam rangka meningkatkan kulitas dan produktifitas usaha budidaya tanaman pangan dan tanaman hias, maka perlu dilakukan penelitian tentang bagaimana cara mengarasi dan mengendalikan hama yang dapat mengganggu bahkan merusak tanaman tersebut. Salah satu cara untuk mengedalikan hama tersebut yaitu dengan menggunakan insektisida. Insektisida yang tersedia saat ini adalah insektisada hasil produksi pabrik dan merupakan obat hama sintetis dengan harga mahal dan berpotensi mencemari lingkugan. Oleh karena itu, penulis merasa terpanggil untuk melakukan penelitian ini dan berusaha untuk menemukan solusi dari masalah tersebut. Solusi yang diinginkan adalah membuat insektisida yang berasal dari tumbuhan Markisa yang efektif dalam membunuh serangga atau hama yang ramah terhadap lingkungan dan bernilai ekonomis, sehingga dapat meningkatkan kualitas dan produktifitas petani maupun usaha budidaya tanaman hias.

   B.            Rumusan Masalah
1.      Kandungan zat apakah yang terdapat pada Daun Markisa (Passiflora) sehingga dapat digunakan sebagai insektisida alami pembasmi hama Kutu putih (Mealybag) maupun ulat?
2.      Bagaimana proses pengolahan Daun Markisa (Passiflora) sehingga dapat dijadikan insektisida alami pembasmi hama Kutu putih (Mealybag) maupun ulat?
3.      Faktor apakah yang dapat menjadi penentu keefektifan insektisida alami Daun Markisa (Passiflora) dalam membasmi hama Kutu putih (Mealybag) dan ulat?
4.      Bagaiman penggunaan insektisida alami Daun Markisa (Passiflora) dalam membasmi hama Kutu putih (Mealybag) dan ulat?

   C.            Tujuan Penelitian
1.      Mengetahui kandungan zat yang terdapat pada Daun Markisa (Passiflora Edulis) sehingga dapat digunakan sebagai insektisida alami pembasmi hama Kutu putih (Mealybag) dan ulat?
2.      Mengetahui proses pengolahan Daun Markisa (Passiflora Edulis) sehingga dapat dijadikan sebagai insektisida alami pembasmi Kutu putih (Mealybag) dan ulat?
3.      Meneliti faktor yang menjadi penentu keefektifan insektisida alami Daun Markisa (Passiflora Edulis) dalam membasmi Kutu putih (Mealybag) dan ulat?
4.      Mengetahui penggunaan insektisida alami Daun Markisa (Passiflora Edulis) dalam membasmi Kutu putih (Mealybag) dan ulat?



   D.            Manfaat Penelitian
1.      Membuat insektisida alami yang ramah lingkungan.
2.      Membuat insektisida alami yang bernilai ekonomis.
3.      Meningkatkan kualitas dan produktifitas budidaya tanaman pangan dan tanaman hias.
4.      Memanfaatkan lahan kering untuk penanaman tanaman Daun Markisa (Passiflora Edulis).



   E.            Asumsi
Penggunaan Insektisida sintetis pada pengembangan budidaya tanaman pertanian dan tanaman hias tidak selalu mencapai keberhasilan bahkan menimbulkan dampak negatif seperti pencemaran lingkungan. Untuk itu, diperlukan insektisida yang ramah lingkunganyang terbuat dari zat organik, serta banyak terdapat di Kawasan Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo Jawa Timur. Insektisida yang dimaksud berasal dari kombinasi ekstrak Daun Markisa dan Sabun Colek.
Tanaman Markisa merupakan salah satu tumbuhan merambat yang buahnya dapat dijadikan sebagai minuman markisa yang kaya akan nutrisi serta baik untuk kesehatan tubuh. Namun, buah markisa yang sepintas hanya dianggap sebagai buah biasa saja nyatanya memiliki berbagai khasiat sebagai obat. Zat kimia yang terkandung dalam Daun Markisa (Passiflora) berkhasiat untuk peluruh air seni, kencing nanah, sedangkan buahnya selain untuk sari buah segar (dicampur dengan sirup).juga dimanfaatkan untuk obat penenang juga berkhasiat menghilangkan rasa nyeri (analgesik) dan memperkuat paru. Adapun  buah, biji, dan daun pada tanaman ini mengandung substansi yang tidak stabil, yaitu asam hidrosianat dan laktone. Sementara buah yang masak mengandung Ca, P, Fe.

    F.            Hipotesis
Berdasarkan asumsi yang telah dibuat secara teoritis, ddiperlukan suatu kesimpulan yang sifatnya semantara. Oleh karena itu,peneliti membuat hipotesis kerja sebagai berikut :
“Dengan adanya zat dengankadar toksisitas tinggi dalam Daun Markisa (Passiflora Edulis), mampu membasmi hama Kutu putih (Mealybag) maupun ulat lebih dari 50%”

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.          Insektisida Sebagai Pemberantas Hama
Insektisida merupakan substansi yang digunakan untuk mengontrol organisme yang mengganggu (hama) tanaman hias atau pun organisme yang terlibat dalam penyebaran bibit penyakit pada tanaman tersebut. Insektisida pada umumnya merupakan biosida, yaitu bahan kimia yang diciptakan untuk membunuh organisme. Penggunaaan insektisida untuk memberanta hama termasuk dalam kategori pemberantasan hama secara kimiawi. Insektisida yang digunakan harus merupakan pestisida selektif. Artinya, insektisida tersebut hanya membunuh organisme yang menjadi sasaran dan tidak membunuh organisme yang lain. (Sri Pujiyanti, 2004 : 156).
Insektisida merupakan bagian dari pestisida yang khusus untuk membasmi serangga. Kutu putih (Mealybag) yang merupakan hama bagi tanaman Adenium tergolong serangga. Sehingga formula (obat) untuk membasminya disebut Insektisida.

B.           Tanaman Markisa
gambar buah markisa
 
Markisa (portugis: maracuja; Spanyol: maracuya) tergolong ke dalam tanaman genus Passiflora, berasal dari daerah tropis dan sub tropis di Amerika. Di Indonesia terdapat dua jenis Markisa, yaitu Markisa ungu (Passiflora edulis) yang tumbuh di dataran tinggi, dan Markisa kuning (Passiflora flavicarva) yang tumbuh di dataran rendah. Sementara itu, ada pula varian markisa yang tumbuh di daerah Sumatera Barat yang disebut sebagai markisa manis (passiflora edulis
forma flavicarva).
Gambar B. Buah Markisa
            Markisa segar tnggi di beta karoten, kalium, dan serat makanan.jus buah Markisa adalah sumber yang baik asam askorbat (vitamin C), dan baik bagi orang-orang yang memiliki tekanan darah tinggi. Varietas kuning digunakan untuk mengolah jus, sedangkan varietas ungu dijual di pasar buah segar.
Di Meksiko, markisa digunakan untuk membuat jus atau dimakan mentah dengan bubuk cabai dan jeruk nipis.
Puerto Rico, di mana buah ini dikenal sebagai “Parcha”, secara luas dipercaya dapat menurunkan tekanan darah. Mungkin karena mengandung alkaloid harmala dan merupakan RIMA ringan. Jus buah Markisa juga sangat umum di sana dan digunakan dalam jus, es krim atau kue-kue.
Di Peru, markisa digunakan dalam beberapa makanan penutup, terutama cheesecake. Hala ini juga mabuk sendiri sebagai jus markisa dan digunakan dalam variasi ceviche dan koktail, termasuk markisa masam, sebuah variasi dari Pisco Sour.
Di Filipina, markisa umumnya dijual di pasar umum dan di sekolah umum. Beberapa vendor menjual buah dengan sedotan di dalamnya untuk menyedot biji dan jus dalam.hal ini tidak terlalu populer karena rasa asam, dan buah sangat musiman. Di Vietnam, markisa dicampur dengan madu dan es untuk membuat smoothie menyegarkan.
Di Afrika Selatan, markisa ang dikenal secara lokal sebagai Granadilla (varietas kuning sebagai Guavadilla),digunakan untuk yogurt rasa. Hal ini digunakan untuk membumbui minuman ringan seperti Schweppes Sparkling Granadilla dan minuman ramah banyak. Hal ini sering dimakan mentah atau digunakan sebagai topping untuk kue dan kue tar. Jus Granadilla biasanya tersedia di restoran. Varietas kuning digunakan untuk pengolahan jus, sedangkan varietas ungu dijual di pasar buah segar. Di Amerika Serikat sering digunakan sebagai bahan dalam campuran jus.

Ø  Manfaat Kesehatan & Gizi Makan Buah Markisa
·         Jus buah markisa mengurangi pertumbuhan sel kanker. Meskipun penelitian sedang dilakukan tentang masalah ini, fitokimia dalam jus buah yang dianggap menghambat pertumbuhan sel kanker.
·         Asam fenolik dan flavonoid hadir dalam buah yang seharusnya memilki fungsi melindungi jantung.
·         Profil fenolik buah ini dikenal aktivitas anti-mikroba.
·         Markisa merupakan sumber antioksidan yang baik, baik yang larut dalam air dan lemak.
·         Buah Passion dianggap baik untuk produk yang membutuhkan pasteurisasi.
·         Buah ini cukup tinggi di karbohidrat dan gula sederhana, yang menigkatkan kinerja atletik.
·         Mengandung sterol, yang membantu dalam menurunkan kadar kolesterol.
·         Buah Gairah adalah suatu reservoir vitamin C, vitamin A dan Kalium.
·         Benih buah merupakan sumber serat yang sangat vital

C.          Klasifikasi Tanaman Markisa
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Dilleniidae
 Ordo: Violales
Famili: Passifloraceae
Genus: Passiflora
Spesies: Passiflora edulis Sims

D.          Deskripsi Tanaman Markisa
http://i1251.photobucket.com/albums/hh554/harykayan/2.jpg
 
Markisa termasuk tanaman semak hidupnya menjalar panjang kuang lebih 10 m. Batang : Markisa mempunyai batang kecil, langsing, dan panjang sekali, bentuk persegi,semu, lunak, halus, warna hijau kecoklatan. Batangnya merambat dengan bantuan sulur berbentuk pilin (spiral).

Gambar D. Tanaman Markisa

Daun : Tunggal, lonjong, tersebar, panjang 7-20cm, lebar 5-15cm, tepi rata, ujung
runcing, pangkal membulat, pertulangan menyirip, permuka`n licin, tangkal persegi, panjang 2-6cm, dan berwarna hijau.


Bunga : 
http://i1251.photobucket.com/albums/hh554/harykayan/3.jpg
Gambar D. Bunga Markisa
Bunga tunggal, bulat berbentuk mangkok, berkelamin dua(hermafrodit) dan menempel di ketiak daun, tangkal bergerigi, panjang 3-4cm hijau, mahkota berbentuk lonjong, permukaannya beralur, warna ungu, benang sari bertangkai, bentuk tabung, 
panjang  6cm warna ungu, kepala sari silindris, panjang 6cm warna putih, 
putiknya pendek warna kuning dengan kelopak bunga berbntuk lonjong warna hijau.
beraroma khas harum. Semua jenis markisa (Passiflora) termasuk penyerbuk silang 
dengan bantuan lebah madu.penyerbukan sendiri masih dapat berlangsung baik.
Untuk mendapatkan hasil panen yang optimal, biasanya penyerbukan di lakukan oleh 
manusia seperti halnya penyerbukan pada tanaman fanily.
Buah : 
Bakal buah bentuknya sangat beragam
http://i1251.photobucket.com/albums/hh554/harykayan/1.jpg
Gambar D. Buah Markisa
Buah Markisa berbentuk lonjong dengan panjang 20 cm, diameter 15 cm 
berat 3-5 kg warna hijau ke putih putihan.Buah yang sudah masak/ranum 
berwarna kekuningan dan beraroma khas harum buah markisa. Biji : Bulat pipih panjang 0,3 cm, putih. Akar : Tunggang warna putih kotor
Kandungan :
Buah, biji, dan daun pada tanaman ini mengandung substansi yang tidak stabil, 
yaitu asam hidrosianat dan laktone. Sementara buah yang masak mengandung 
Ca, P, Fe.

Manfaat dan Khasiat
Daun Markisa/ Passiflora quadrangularis L berkhasiat untuk peluruh air seni, 
kencing nanah, 
sedangkan buahnya selain untuk sari buah segar (dicampur dengan sirup).juga 
dimanfaatkan 
untuk obat penenang juga berkhasiat menghilangkan rasa nyeri (analgesik) dan 
memperkuat paru.

Beberapa Herbalis
 memanfaatkan Seluruh bagian Markisa untuk digunakan 
sebagai 
obat dan berkhasiat sebagai anti radang, penenang (sedatif), peluruh kencing 
(diuretik), serta bersifat membersihkan panas dan racun.
Seorang herbalis yang mantan seorang Pendeta di daerah Malang
(Perumahan Sawojajar.) malah menggunakan markisa besar untuk
pengobatan kanker. 

Penyakit yang bisa diobati diantaranya :
  •     Batuk karena paru-paru panas
  •     Radang kelenjar getah bening leher (servikal limfadenitis)
  •     Sulit tidur (insomnia), sering gelisah dan bermimpi buruk
  •     Kelelahan kronis yang abnormal (neurasthenia)
  •     Hipertensi
  •     Bengkak (edema), kencing berlemak (chyluria)
  •     Penyakit kult seperti koreng, skabies, borok (ulcus) pada kaki.

Cara pemakaian :
1.      Untuk obat yang diminum : Rebus herba segar sebanyak 5--15 g, lalu minum airnya.
2.      Untuk pemakaian luar : Cuci herba segar secukupnya, lalu rebus.
3.      Setelah dingin gunakan airnya untuk mencuci penyakit kulit yang Anda alami.  Atau bisa juga dengan menurapkan herba segar yang telah digiling halus ke bagian yang sakit.

Syarat Tumbuh
Tanaman Markisa umumnya hanya ditanam di dataran rendah, tetapi didataran tinggi 
juga cocok (buktinya tanaman ini tumbuh subur didaerah saya Bululawang 
Kab.Malang - Jawatimur) yang ketinggianya berkisar 500- 721 m dpl.
Kondisi tanah yang dikehendaki banyak mengandung bahan organik (subur) dan 
pH 5,5-6,5. Lokasi tempat bertanam sebaiknya terbuka, walaupun tanaman 
tahan naungan. Tanaman tidak tahan terhadap kondisi lahan yang tergenang air.

Pedoman Budidaya
Perbanyakan tanaman Markisa ditanam dengan biji dan setek cabang. Setek ditanam 
di persemaian. Bila bibit berasal dari biji, sebaiknya biji disemaikan lebih dulu. 
Bibit dapat ditanam di kebun setelah mencapai ketinggian lebih dari 50 cm 
(berdaun 3-4 helai). Markisa dapat disambung. Batang bawah digunakan 
semai markisa rola atau konyal berdaun empat. Budi daya tanaman Tanah dicangkul 
dengan baik agar gulma dan alang-alang yang tumbuh hilang hingga ke akar-akarnya. 
Lubang tanam dibuat dengan ukuran 40 cm x 40 cm dengan kedalaman 30-40 cm. 
Setiap lubang diberi pupuk kandang yang telah matang sebanyak 10 kg. Bibit yang 
telah cukup umur ditanam dalam lubang.
Jarak antar lubang tanam 2 m x 5 m. Bibit dalam polibag sebaiknya ditanam pada akhir musim hujan (menjelang musim kemarau). Penanaman markisa pada akhir musim kemarau (menjelang musim hujan) akan memperlambat umur berbunga, yakni setelah 10-12 bulan. Penanaman pada akhir musim hujan menyebabkan tanaman akan berbunga pada umur sekitar enam bulan. Tanaman markisa dapat dirambatkan pada pohon hidup atau kayu Gliricidia. Markisa yang dirambatkan dengan sistem pagar produksinya lebih tinggi.

Pemeliharaan
http://i1251.photobucket.com/albums/hh554/harykayan/9.jpg
Gambar D. Pemeliharaan Markisa
Pemupukan dengan NPK (15:15:15) sebanyak 25-100 g per tanaman, 
tergantung umurnya. Dianjurkan perambatan dengan sistem pagar. Jaraknya 3 m agar pengaturan cabang lebih mudah dan dapat dikombinasi dengan tanaman lain (misalnya kopi). Sebagai tiang pagar dapat digunakan tanaman hidup (Gliricidia, kayu jaran Lannea grandis).Untuk menjalarkan batang markisa digunakan kawat yang dibentangkan mendatar seperti pada perambatan tanaman anggur. Setelah bibit yang ditanam di sepanjang pagar (jarak 2-3 m) mencapaibentangan kawat terbawah, ujung bibit segera dipotong. Dari tunas yang tumbuh, dipilih tiga tunas yang kekar. Dua tunas dijalarkan pada bentangan kawat terbawah dan satu lagi dibiarkan tumbuh mencapai bentangan kawat di atasnya. Pekerjaan seperti ini diulangi hingga semua kawat bentang dijalari oleh 1-2 tunas yang merupakan cabang buah. 
Bunga muncul pada ketiak daun, biasanya berdaun tunggal.
Bila cabang-cabang buah belum berbunga maka ujung cabang perlu 
dipotong (dipotes). Buah akan bergantung pada kawat tersebut dan sebaiknya buah yang sudah agak berumur sebaiknya di bungkus/di blongsong, ini berguna untuk melindungi buah dari serangan hama (bisa menggunakan kantong kresek yang sudah saya praktekkan). Namun, petani di Indonesia jarang melakukan pembungkusan dan pemangkasan seperti ini sehingga produksinya rendah.

Hama dan Penyakit
http://i1251.photobucket.com/albums/hh554/harykayan/10.jpg
Gambar D. Hama dan Penyakit Tanaman Markisa


Hama yang biasa menyerang tanaman markisa adalah lalat buah Dacus dorsalis dan nematoda bengkak akar yang disebabkan oleh Meloidogyne incognita. Kutu daun kuning Myzus persicae dan kutu putih Aphis gossypii sering terdapat pada daun. Hama ini dapat diatasi dengan semprotan insektisida Tamaron 0,2%. Penyakit yang biasa mengancam tanaman markisa adalah mati pucuk Phytophthora parasitica, penyakit layu Fusarium passiflorae, dan penyakit busuk leher akar (damping-offi pada bibit di persemaian yang disebabkan oleh cendawan Rhizoctonia solani. Kondisi lahan yang basah merangsang tumbuhnya penyakit-penyakit tersebut. Bila belum terlambat, penyakit ini dapat diatasi 
dengan Benlate 0,2% atau lisol 10-50%.

Panen dan Pasca Panen
http://i1251.photobucket.com/albums/hh554/harykayan/IMG01099-20121108-0901.jpg
Gambar D. Panen Buah Markisa

Buah markisa harus dipanen setelah matang pohon, yakni setelah berwarna kuning 
dan timbul aroma harum. Buah yang masih muda (warnanya hijau) sebaiknya tidak 

E.           Sabun Colek
Sabun cream sering juga disebut sabun colek. Sabun ini merupakan sabun yang multiguna. Bisa dipakai untuk membersihkan semua keperluan di rumah, cuci piring, cuci baju, atau pun untuk cuci mobil. Di Indonesia sabun colek masih tinggi permintaannya, karena banyak orang desa memakai sabun colek ini untuk berbagai keperluan  diantaranya seperti mencuci baju, mencuci piring, bahkan ada juga yang digunakan untuk mandi membersihkan badan dan keramas (cuci rambut).
Sebenarnya sabun colek diproduksi bukan untuk keperluan mencuci badan tetapi karena daya bersihnya kuat jadi mereka merasa nyaman memakainya. Sabun colek sebaiknya tidak dipakai untuk mencuci badan (mandi), dan mencuci rambut (keramas) karena bisa membuat kulit kepala dan rambut kering.
Sabun colek merupakan salah satu jenis keras. Sabun keras sendiri merupakan sabun yang mengandung ion natrium, karena dalam proses pembuatannya digunakan natrium hidroksida (soda api atau kaustik soda). Natrium hidroksida (NaOH) merupakan basa yang lebih keras daripada kalium hidroksida (KOH). Daya pemutihnya sangat iritatif (bersifat melukai) terhadap kulit.
Proses pembuatan sabun keras melibatkan reaksi kimia atau bahan baku sabun itu sendiri adalah :
1.      DEDOCYL BENZENE SULFONAT (DDBS)
Adalah bahan aktif (active ingredient) untuk membuat sabun colek, sebagian orang menyebutnya dengan nama ABS (alkyl benzene sulfonat), ini adalah bahan yang mutlak harus dipakai pada proses pembuatan sabun colek. Yang nantinya akan menentukan hasil akhir. Tanpa bahan ini sabun colek tidak akan memiliki daya bersih dalam pemakaian sabun colek, bahan ini berbentuk cairan yang biasanya berwarna coklat tua, yang berfungsi sebagai pembersih, ciri-ciri cairan ini adalah memiliki busa yang banyak bila di kucek.

2.      KAUSTIK SODA
Bahan ini berguna sebagai penetralisir sifat keasaman yang diakibatkan dalam pemakaian DDBS. Bahan ini berbentuk batangan atau flake. Sebelum dilakukan pencampuran, bahan ini harus dilarutkan dengan air dengan perbandingan 4:6 (misanya : 40 gram Kaustik Soda dengan 60 cc air campuran) atau bisa juga dengan skala perbandingan lain sesuai dengan formula masing-masing, tetapi umumnya 4:6. Cara melarutkan Kaustik soda harus dilakukan dengan hati-hati karena bahan ini bersifat keras terhadap kulit manusia.
3.      SODA ABU
Soda abu atau SODA ASH berbentuk bubuk, dan warnanya putih. Fungsinya untuk meningkatkan daya bersih, penambahan soda abu tidak terlalu banyak, karena dapat menimbulkan rasa panas di tangan saat sabun colek digunakan. Penggunaan soda abu yang dianjurkan dalam formula pembutan sabun colek adalah sekitar 7% dari komposisi total bahan sabun colek.
4.      SILIKAT
Biasanya dikenal dengan nama water glass, bahan ini berbentuk cairan kental dan tidak berwarna (bening). Berfungsi sebagai pengikat material dalam sabun colek. Penggunaan silikat juga akan memberikan kesan berkilau pada sabun colek, bahan ini sangat mudah beku, jadi bila tidak dipakai, sebaiknya bahan ini di simpan dengan tutup yang rapat
5.      AIR
Air merupakan bahan utama dalam pembuatan sabun colek, berfungsi untuk menyempurnakan reaksi dari formula sabun colek, air juga berfungsi untuk mengatur kekentalan sabun colek yang akan dihasilkan dari proses formula sabun colek.
6.      PEWARNA DAN PEWANGI
Pewarnaan berfungsi sebagai bahan tambahan (addictive) dan tidak akan mengurangi kualitas dari sabun colek, warna sabun colek yang asli adalah coklat, dan berbau kurang menarik.  Jadi penambahan parfum dan  pewarna dapat mempengaruhi perhatian konsumen terhadap sabun colek, jadi akan cepat terjual bila akan dijual. Biasanya digunakan warna kuning dan aroma jeruk agar lebih dapat menghilangkan bau kotoran yang akan dibersihkan.
7.      CMC = Carboxy methyel cellulose
Biasanya tersedia dalam bentuk garam, yaitu CMC (Na). Fungsinya dalam sabun colek adalah sebagai pengental / meningkatkan viskositas.
8.      STTP
Untuk mencegah redeposisi atau mencegah kotoran kembali ke baju (kain). Jadi tidak tepat kalau ditambahkan pada sabun cair cuci piring. Jika ingin sabun cairnya punya kelebihan dibanding sabun cair lainnya. Diberi bahan kimia semacam anti jamur / bakteri. Jadi tidak sekedar bersih tapi membunuh jamur / bakteri yang merugikan dari barang-barang yang dicuci sehingga tampak higienis.
Bahan-bahan yang dibutuhkan :
1.      Caustik soda .......................................................... 50 gram.
2.      STTP ...................................................................... 50 gram.
3.      CMC ...................................................................... 30 gram.
4.      Soda ash ................................................................ 100 gram.
5.      ABS ....................................................................... 300 gram.
6.      Bahan warna .......................................................... secukupnya.
7.      Air .......................................................................... 600 cc (2,5 glass).
8.      Bibit minyak wangi ................................................ 5 cc
9.      Caoline ................................................................... 50 gram.



F.             



BAB III
METODOLOGI
A.          Pengertian Metodologi
Metodologi berasal dari bahasa Yunani “metodos” dan “logos”, kata ini terdiri dari dua suku kata yaitu “metha” yang berarti melalui atau melewati dan “hodos” yang berarti jalan atau cara. Metode berarti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan. Logos artinya ilmu. Metodologi adalah ilmu-ilmu atau cara yang digunakan untuk memperolehkebenaran menggunakan penulusuran dengan tata cara tertentu dalam menemukan kebenaran, tergantung dari realitas yang sedang dikaji.
Ilmu terdiri atas empat prinsip:
1.      Keteraturan (orde)
2.      Sebab-musabab (determinisme)
3.      Kesederhanaan (parsimoni)
4.      Pengalaman yang dapat diamati (empirisme)
Dengan prinsip-prinsip yang demikian maka ada banyak jalan untuk menemukan kebenaran. Metodologi adalah tata cara yang menentukan proses penelusuran apa yang akan digunakan. Metodologi penelitian adalah tata cara yang lebih terperinci mengenai tahap-tahap melakukan sebuah penelitian
Menurut Kuntjaraningrat (1971 : 1), metode adalah cara kerja untuk memahami objek yang menjadi sasaran ilmu pengetahuan yang bersangkutan.

B.           Jenis Penelitian
“Metodologi penelitian” berasal dari kata “Metode” yang artinya cara yang tepat untuk melakukan sesuatu; dan “Logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi metodologi artinya cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara seksama untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan “penelitian” adalah suatu kegiatan untuk mencari, mencatat, merumuskan dan menganalisis sampai menyusun laporannya. (Drs. Cholid Narbuko dan Drs. Abu Achmadi, 2008 : 1)
Sedangkan menurut Rameli Agam (2009 :  94), Metode ilmiah dalam bentuk Metodologi penelitian direalisasikan dalam bentuk model, prosedur, dan format penelitian, seperti tentang metode atau teknik penelitian, instrumen penelitian, subjek penelitian, prosedur, desain, dan alat-alat bantu penelitian. Metodologi penelitian yang baik akan memberikan  kontribusi bagi tercapainya kesuksesan penelitian yang dilakukan. Dalam penelitian ini, penelitian menggunakan metode penelitian eksperimen1 untuk menguji rumusan hipotesis yang telah dibuat.




C.          Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian tentang insektisida alami dari Daun Markisa (Passiflora Edulis) ini dilakukan di empat tempat yang berbeda, yaitu:
1.      Laboratorium Kimia SMA Negeri 1 Gending,
2.      Desa Bladu Wetan Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo,
3.      Desa Jatiyadi Kecamatan Gending Kebupaten Probolinggo,
4.      dan di desa Tarokan Kidul Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo.
sedangkan pengambilan sampel kutu putih dan Daun Markisa (Passiflora Edulis) sebagai bahan dasar insektisida alami di SMA Negeri 1 Gending dan  pengambilan ulat di desa Jatiyadi Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo.

D.          Pemilihan Subjek
Subjek yang diteliti dalam penelitian ini adalah ekstrak Daun Markisa (Passiflora Edulis) yang banyak terdapat di Kabupaten Probolinggo, khususnya Kecamatan Gending dan Banyuanyar. Sedangkan objek yang diteliti adalah Kutu Putih (Mealybug) dan Ulat Tembakau.

E.           Teknik Pengumpulan Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah melalui beberapa cara sebagai berikut:
1.         Eksperimen
Metode ini berupa percobaan yang dilakukan dengan membuat berbagai macam formula. Ada dua percobaan yang dilakukan pada eksperimen ini yaitu:
o   Percobaan1
Membuat ekstrak Daun Markisa (Passiflora Edulis) yang didiamkan selama 24 jam yang selanjutnya diuji coba pada Hama Kutu Putih yang terdapat pada tanaman Hias dan Ulat pada Tanaman Tembakau. Cara mengujinya yaitu dengan kontak langsung (disemprotkan), kemudian efek setelah penyemprotan dapat diketahui dengan mengamati perubahan perilaku Kutu Putih dan Ulat Tembakau dalam beberapa menit.
o   Percobaan2
Membuat ekstrak Daun Markisa (Passiflora Edulis) yang kemudian dicampur dengan larutan sabun Krim (sabun colek). Setelah itu, kemudian mengujinya pada Hama Kutu Putih yang terdapat pada tanaman Hias dan Ulat pada Tanaman Tembakau. Cara mengujinya yaitu dengan kontak langsung (disemprotkan), kemudian efek setelah penyemprotan dapat diketahui debgan mengamati perubahan perilaku Kutu Putih dan Ulat Tembakau dalam beberapa menit.
2.         Dokumentasi
Metode ini dilakukan untuk mendokumentasikan saat percobaan dilakukan dan hasil yang diperoleh setelah percobaan dilakukan.



F.            Alat dan Bahan
f.1  Alat :
§  alat penumbuk atau blender
§  gelas kimia 200 ml 2 buah
§  1 pisau
§  saringan
§  gelas ukur
§  timbangan
§  alat semprot

f.2  Bahan :
§  Daun Markisa (Passiflora Edulis) 57,4 gram
§  air murni 200 ml
§  sabun colek 3,0 gram
G.          Langkah Kerja
G.1  Cara Kerja
a. Membuat Insektisida Daun Markisa (Passiflora Edulis)
- menimbang Daun Markisa (Passiflora Edulis) seberat 57,4 gram
- mencuci Daun Markisa (Passiflora Edulis) hingga bersih
-menumbuk Daun Markisa (Passiflora Edulis) sampai halus (jika tidak ada alat penumbuk bisa menggunakan blender)
- menambahkan 200 ml air murni
- kemudian ditumbuk hingga merata
- saring larutan ekstrak Daun Markisa (Passiflora Edulis) yang telah diaduk
- mendiamkan larutan tersebut selama 24 jam (sesuai yang dibutuhkan)
- menyemprotkan larutan tersebuat terhadap Kutu Putih dan Ulat Tembakau
- mengamati perubahan yang terjadi pada kutu putih dan ulat tersebut
- mencatat hasil pengamatan pada tabel pengamatan

b. Membuat Insektisida  Daun Markisa (Passiflora Edulis) dengan penambahan Sabun Colek
- menimbang Daun Markisa (Passiflora Edulis) seberat 57,4 gram dan Sabun Colek 3,0 gram
- mencuci Daun Markisa (Passiflora Edulis) hingga bersih
-menumbuk Daun Markisa (Passiflora Edulis) sampai halus (jika tidak ada alat penumbuk bisa menggunakan blender)
- menambahkan 200 ml air murni
- kemudian ditumbuk hingga merata
- tambahkan 3,0 gram sabun colek kemudian diaduk
- saring campuran larutan Daun Markisa (Passiflora Edulis) yang telah dicampur dengan sabun colek
- mendiamkan larutan tersebut selama 24 jam (sesuai yang dibutuhkan)
-menyemprotkan larutan Daun Markisa (Passiflora Edulis) pada kutu putih dan ulat tembakau
- mengamati perubahan yang terjadi pada kutu putih dan ulat tersebut
- mencatat hasil pengamatan pada tabel pengamatan

G.2  Rancangan Tabulasi data
Pengorganisasian data hasil pengamatan adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Rancangan tabulasi data
Lama pendiaman larutan insektisida
Lama waktu setelah penyemprotan
Hasil pengamatan
Keterangan





H.          Sumber Data
Data yang diperoleh berupa data primer dan data sekunder. Data Primer adalah berupa data percobaan saat pembuatan insektisida alami dari ekstrak Daun Markisa (Passiflora) dan penambahan sabun colek, saat dilakuka penyemprotan (kontak langsung), dan data tentang efek yang terjadi setelah dilakukan penyemprotan.
Sementara data sekunder diperoleh melalui beberapa literatur buku dan internet. Buku yang dimaksud adalah tentang pertanian organik, budidaya tanaman hias, tanaman obat, Pestisida Nabati, dan penulusuran tentang kandungan zat-zat kimia apa yang terdapat di dalam Daun Markisa (Passiflora Edulis) dan Sabun Colek diperoleh melalui internet.

I.              Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang kami gunakan adalah deskriptif, yaitu menggambarkan secara rinci mengenai hal-hal yang ada pada saat melakukan eksperimen (percobaan), yaitu saat pembuatan formula insektisida nabati dan saat penyemprotan (kontak langsung). Setelah itu, juga menggambarkan dengan rinci perubahan perilaku yang dialami Kutu Putih dan Ulat Tembakau setelah penyemprotan.








BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.          Kandungan  Zat Yang Terdapat dalam Daun Makisa dan Sabun Colek
Daun Markisa (Passiflora) merupakan salah satu tumbuhan yang mengandung bahan aktif insektisida. Markisa memang sangat banyak manfaat untuk kesehatan karena kandungan nutrisinya dan manfaat buah markisa yang berkhasiat sebagai pereda nyeri, anti-kejang, kolitis, penenang, dan antiradang. Gangguan seperti sembelit, disentri, insomnia, gangguan haid, batuk, serak, tenggorokan kering juga bisa dihalau dengan buah ini. Daging buah markisa digunakan untuk merilekskan saraf saat sakit kepala, meredakan diare, dan neurastenia (kelelahan kronis, lemah, tidak nafsu makan, tidak bisa konsentrasi, dan susah tidur). Penelitian invitro di University of Florida juga mendapati bahwa ekstrak buah markisa kuning banyak mengandung fitokimia yang mampu membunuh sel kanker. Fitokimia tersebut antara lain polifenol dan karotenoid. Kandungan fitokimia yang lain dalam markisa adalah harman, harmol, harmalin, passaflorine, harmine, karotenoid, viteksin, krisin, dan isoviteksin. Sedangkan kandungan gizinya antara lain: energi, lemak, protein, serat, mineral, kalsium, fosfor, zat besi, karoten, tiamin, riboflavin, niasin, asam askorbat, dan asam sitrat. Markisa membuat lebih mudah tidur markisa-5Markisa kaya vitamin-vitamin B yang menenangkan dan potassium yang merilekskan system syaraf. Orang-orang Amerika Selatan secara tradisional makan markisa untuk membantu tidur. Bahkan menurut mereka, makan 1 buah markisa sebelum tidur bisa membuat mimpi indah. Markisa mempunyai khasiat untuk menyembuhkan gejala alergi kronis. Juga pemulihan kondisi pasien liver dan ginjal, serta memicu peningkatan kekebalan tubuh dan kekuatan antibodi dalam darah. Bahkan, markisa juga mampu menyaring, memisahkan, dan membuang racun dari dalam tubuh. Selain itu, bisa meningkatkan kesegaran kulit tubuh dan merangsang pertumbuhan sel muda pada kulit wajah. Dari hasil penelitian laboratorium, markisa mengandung vitamin C dosis tinggi dan antioksidan. Banyak manfaat dari buah markisa terutama untuk kesehatan tubuh


B.           Proses Pengolahan Daun Markisa dan Sabun Colek Menjadi Insektisida Nabati
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan ekstrak Daun Markisa dan Sabun Colek untuk dijadikan insektisida alami yang bernilai ekonomis dan ramah lingkungan. Proses pembuatan insektisida ini melalui beberapa tahapan. Proses pertama adalah memilih Daun Markisa. Daun Markisa yang digunakan disini adalah yang sudah tua dan berwarna hijau tua. Sedangkan Sabun Colek yang dipakai adalah sabun colek yang biasa dipakai untuk semua kegiatan mencuci. Daun Markisa dan Sabun Colek ditimbang kemudian Daun Markisa dicuci. Setelah itu Daun Markisa tersebut ditumbuk atau diblender kemudian ditambah larutan Sabun Colek yang sebelumnya sudah campur dengan air dan jika sudah tercampur lalu disaring.
Untuk dijadikan sebuah ramuan (formula) insektisida, peneliti mencampurkan sabun Colek dengan takaran yang sesuai. Penambahan Sabun Colek bertujuan untuk  menghancurkan lapisan lilin yang terdapat pada tubuh Kutu Putih dan ulat serta pada telurnya. Setelah ekstrak Daun Markisa dan Sabun Colek dicampur, campuran tersebut didiamkan selama 24 jam. Setelah itu menyemprotkan pada tanaman yang terkena hama kutu putih dan hama ulat.
Daun Markisa dan Sabun Colek dapat dijadikan insektisida yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis (murah). Dikatakan murah karena tidak membutuhkan biaya yang terlalu mahal untuk membuat insektisida nabati ini. Sehingga harga yang relatif murah bisa dijangkau para petani maupun para budidaya tanaman hias di Indonesia, umumnya dan di Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo khususnya. Dengan cara seperti ini dapat mengurangi biaya produksi dan perawatan tanaman pertanian maupun tanaman hias.

C.          Faktor Penentu Keefektifan Insektisida Nabati Daun Markisa dan Sabun Colek
Setelah selesai membuat larutan insektisda, peneliti melakukan penyemprotan pada kutu putih dan ulat. Setelah disemprot
D.          Gryegrht
E.           Urehtgrht

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil eksperimen, Daun Markisa (Passiflora) dan Sabun Colek dapat digunakan sebagai insektisida nabati yang mampu membunuh hama Kutu Putih (Mealybag). Hala ini dapat disebabkan Daun Markisa dan Sabun Colek mengandung zat aktif dari golongan alkoloida yang dapat berpengaruh pada sistem kerja organ tubuh dari Hama Kutu Putih. Dalam hal ini Daun Markisa yang digunakan sebagai insektisida adalah Daun yang tua yaitu daun yang berwarna Hijau tua. Sedangkan Sabun Colek  yang digunakan adalah sisa Sabun Colek yang sudah dipakai.
Dalam proses pembuatan insektisida nabati kombinasi Sabun Colek. Takaran yang digunakan adalah 57,4 gram Daun Markisa (Passiflora) dan 3,0 gram Sabun Colek, 200 ml air murni. Penyemprotan dilakukan pada daun tanaman yang terdapat hama Kutu Putih (Mealybag).

5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian, penyusun mBAB I
PENDAHULUAN
   A.            Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara yang terletak di daerah beriklim tropis dan mempunyai banyak kekayaan alam, baik berupa barang tambang, kekayaan laut, hasil hutan, peternakan, tanah yang subur, perkebunan dan pertanian. Dengan kondisi tanah yang subur dapat dimanfaatkan dalam mengembangkan berbagai macam budidaya tanaman pangan hingga tanaman hias. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia banyak membuka lahan untuk melestarikan kekayaan alam tersebut, khususnya dalam bidang pertanian dan budidaya tanaman hias. Sehingga Negara Indonesia merupakan salah satu negara Agraris. Sebgai negara Agraris, Indonesia memiliki jumlah penduduk relatif besar yang terdiri dari penduduk yang mayoritas bercocok tanam atau bertani dan ada juga sebagian masyarakat Indonesia yang terjun dalam usaha budidaya tanaman hias, karena kedua bidang usaha tersebut merupakan salah satu mata pencaharian yang cocok dengan keadaan alam Indonesia serta kemampuan masyarakat Indoesia yang pandai mengolah lahan pertanian maupun tanaman hais. Meskipun kemampuan tersebut  belum tentu dapat menghasilkan produk yang memiliki kualitas tinggi. Akan tetapi, kemahiran masyarakyat indonesia itu masih dapat dikembangkan. Hala yang terpenting adalah potensi alamnya yaitu lahan pertanian yang luas dan subur.
Salah satu daerah di Indonesia  yang identik dengan pertanian dan usaha budidaya tanaman hias adalah Kabupaten Probolinggo. Masyarakat Probolinggo menanam banyak jenis rempah-rempah dan bahan pada lahan pertaniannya. Bahkan daerah Kabupaten Probolinggo berpotensi dalam dalam pengembangan budidaya tanaman pangan dan tanaman hias. Kabupaten Probolinggo memiliki luas sekitar 1.696,166 km2, tepatnya pada 112051’ – 113030’ Bujur Timur dan 7040’ – 8010’ Lintang Selatan, yang berada pada ketinggian 0 – 2500 m dpl. Kawasan Probolinggo memiliki iklim tropis dengan kondisi tanah yang subur, sehingga potensi ini dimanfaatkan oleh masyarakat Probolinggo untuk membudidayakan berbagai macam tanaman pangan hingga tanamna hias. Tanaman pangan yang banyak dibudidayakan di daerah Kabupaten Probilinggo seprti padi, jagung, wortel, kentang, bawang merah dan lain-lain. Sedangkan tanaman hias yang banyak dibudidayakan adalah Palem, Kaktus, Anthurium, Euphorbia, Kamboja Jepang (Adenium) dan lain-lain. Akan tetapi, semua usaha tanaman pangan (pertanian) maupun tanaman hias membutuhkan biaya dan kesabaran. Dikatakan demikian karena harga bibit tanaman pangan seperti jagung, bawang merah, kentang dan bibit tanaman hias seperti bibit Kamboja Jepang sangat mahal dan juga perwatannya yang membutuhkan ketelatenan.
Selain itu juga berpotensi terserang oleh hama yang membutuhkan kesabaran dalam penanganannya serta biaya yang besar untuk membeli obat pembasminya. Hal ini yang menjadi masalah yang dihadapi para pengusaha budidaya tanaman pangan dan tanaman hias di Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo, sehingga menyebabkan produktifitas dan kualitasnya menurun. Dalam rangka meningkatkan kulitas dan produktifitas usaha budidaya tanaman pangan dan tanaman hias, maka perlu dilakukan penelitian tentang bagaimana cara mengarasi dan mengendalikan hama yang dapat mengganggu bahkan merusak tanaman tersebut. Salah satu cara untuk mengedalikan hama tersebut yaitu dengan menggunakan insektisida. Insektisida yang tersedia saat ini adalah insektisada hasil produksi pabrik dan merupakan obat hama sintetis dengan harga mahal dan berpotensi mencemari lingkugan. Oleh karena itu, penulis merasa terpanggil untuk melakukan penelitian ini dan berusaha untuk menemukan solusi dari masalah tersebut. Solusi yang diinginkan adalah membuat insektisida yang berasal dari tumbuhan Markisa yang efektif dalam membunuh serangga atau hama yang ramah terhadap lingkungan dan bernilai ekonomis, sehingga dapat meningkatkan kualitas dan produktifitas petani maupun usaha budidaya tanaman hias.

   B.            Rumusan Masalah
1.      Kandungan zat apakah yang terdapat pada Daun Markisa (Passiflora) sehingga dapat digunakan sebagai insektisida alami pembasmi hama Kutu putih (Mealybag) maupun ulat?
2.      Bagaimana proses pengolahan Daun Markisa (Passiflora) sehingga dapat dijadikan insektisida alami pembasmi hama Kutu putih (Mealybag) maupun ulat?
3.      Faktor apakah yang dapat menjadi penentu keefektifan insektisida alami Daun Markisa (Passiflora) dalam membasmi hama Kutu putih (Mealybag) dan ulat?
4.      Bagaiman penggunaan insektisida alami Daun Markisa (Passiflora) dalam membasmi hama Kutu putih (Mealybag) dan ulat?

   C.            Tujuan Penelitian
1.      Mengetahui kandungan zat yang terdapat pada Daun Markisa (Passiflora Edulis) sehingga dapat digunakan sebagai insektisida alami pembasmi hama Kutu putih (Mealybag) dan ulat?
2.      Mengetahui proses pengolahan Daun Markisa (Passiflora Edulis) sehingga dapat dijadikan sebagai insektisida alami pembasmi Kutu putih (Mealybag) dan ulat?
3.      Meneliti faktor yang menjadi penentu keefektifan insektisida alami Daun Markisa (Passiflora Edulis) dalam membasmi Kutu putih (Mealybag) dan ulat?
4.      Mengetahui penggunaan insektisida alami Daun Markisa (Passiflora Edulis) dalam membasmi Kutu putih (Mealybag) dan ulat?



   D.            Manfaat Penelitian
1.      Membuat insektisida alami yang ramah lingkungan.
2.      Membuat insektisida alami yang bernilai ekonomis.
3.      Meningkatkan kualitas dan produktifitas budidaya tanaman pangan dan tanaman hias.
4.      Memanfaatkan lahan kering untuk penanaman tanaman Daun Markisa (Passiflora Edulis).



   E.            Asumsi
Penggunaan Insektisida sintetis pada pengembangan budidaya tanaman pertanian dan tanaman hias tidak selalu mencapai keberhasilan bahkan menimbulkan dampak negatif seperti pencemaran lingkungan. Untuk itu, diperlukan insektisida yang ramah lingkunganyang terbuat dari zat organik, serta banyak terdapat di Kawasan Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo Jawa Timur. Insektisida yang dimaksud berasal dari kombinasi ekstrak Daun Markisa dan Sabun Colek.
Tanaman Markisa merupakan salah satu tumbuhan merambat yang buahnya dapat dijadikan sebagai minuman markisa yang kaya akan nutrisi serta baik untuk kesehatan tubuh. Namun, buah markisa yang sepintas hanya dianggap sebagai buah biasa saja nyatanya memiliki berbagai khasiat sebagai obat. Zat kimia yang terkandung dalam Daun Markisa (Passiflora) berkhasiat untuk peluruh air seni, kencing nanah, sedangkan buahnya selain untuk sari buah segar (dicampur dengan sirup).juga dimanfaatkan untuk obat penenang juga berkhasiat menghilangkan rasa nyeri (analgesik) dan memperkuat paru. Adapun  buah, biji, dan daun pada tanaman ini mengandung substansi yang tidak stabil, yaitu asam hidrosianat dan laktone. Sementara buah yang masak mengandung Ca, P, Fe.

    F.            Hipotesis
Berdasarkan asumsi yang telah dibuat secara teoritis, ddiperlukan suatu kesimpulan yang sifatnya semantara. Oleh karena itu,peneliti membuat hipotesis kerja sebagai berikut :
“Dengan adanya zat dengankadar toksisitas tinggi dalam Daun Markisa (Passiflora Edulis), mampu membasmi hama Kutu putih (Mealybag) maupun ulat lebih dari 50%”

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.          Insektisida Sebagai Pemberantas Hama
Insektisida merupakan substansi yang digunakan untuk mengontrol organisme yang mengganggu (hama) tanaman hias atau pun organisme yang terlibat dalam penyebaran bibit penyakit pada tanaman tersebut. Insektisida pada umumnya merupakan biosida, yaitu bahan kimia yang diciptakan untuk membunuh organisme. Penggunaaan insektisida untuk memberanta hama termasuk dalam kategori pemberantasan hama secara kimiawi. Insektisida yang digunakan harus merupakan pestisida selektif. Artinya, insektisida tersebut hanya membunuh organisme yang menjadi sasaran dan tidak membunuh organisme yang lain. (Sri Pujiyanti, 2004 : 156).
Insektisida merupakan bagian dari pestisida yang khusus untuk membasmi serangga. Kutu putih (Mealybag) yang merupakan hama bagi tanaman Adenium tergolong serangga. Sehingga formula (obat) untuk membasminya disebut Insektisida.

B.           Tanaman Markisa
gambar buah markisa
 
Markisa (portugis: maracuja; Spanyol: maracuya) tergolong ke dalam tanaman genus Passiflora, berasal dari daerah tropis dan sub tropis di Amerika. Di Indonesia terdapat dua jenis Markisa, yaitu Markisa ungu (Passiflora edulis) yang tumbuh di dataran tinggi, dan Markisa kuning (Passiflora flavicarva) yang tumbuh di dataran rendah. Sementara itu, ada pula varian markisa yang tumbuh di daerah Sumatera Barat yang disebut sebagai markisa manis (passiflora edulis
forma flavicarva).
Gambar B. Buah Markisa
            Markisa segar tnggi di beta karoten, kalium, dan serat makanan.jus buah Markisa adalah sumber yang baik asam askorbat (vitamin C), dan baik bagi orang-orang yang memiliki tekanan darah tinggi. Varietas kuning digunakan untuk mengolah jus, sedangkan varietas ungu dijual di pasar buah segar.
Di Meksiko, markisa digunakan untuk membuat jus atau dimakan mentah dengan bubuk cabai dan jeruk nipis.
Puerto Rico, di mana buah ini dikenal sebagai “Parcha”, secara luas dipercaya dapat menurunkan tekanan darah. Mungkin karena mengandung alkaloid harmala dan merupakan RIMA ringan. Jus buah Markisa juga sangat umum di sana dan digunakan dalam jus, es krim atau kue-kue.
Di Peru, markisa digunakan dalam beberapa makanan penutup, terutama cheesecake. Hala ini juga mabuk sendiri sebagai jus markisa dan digunakan dalam variasi ceviche dan koktail, termasuk markisa masam, sebuah variasi dari Pisco Sour.
Di Filipina, markisa umumnya dijual di pasar umum dan di sekolah umum. Beberapa vendor menjual buah dengan sedotan di dalamnya untuk menyedot biji dan jus dalam.hal ini tidak terlalu populer karena rasa asam, dan buah sangat musiman. Di Vietnam, markisa dicampur dengan madu dan es untuk membuat smoothie menyegarkan.
Di Afrika Selatan, markisa ang dikenal secara lokal sebagai Granadilla (varietas kuning sebagai Guavadilla),digunakan untuk yogurt rasa. Hal ini digunakan untuk membumbui minuman ringan seperti Schweppes Sparkling Granadilla dan minuman ramah banyak. Hal ini sering dimakan mentah atau digunakan sebagai topping untuk kue dan kue tar. Jus Granadilla biasanya tersedia di restoran. Varietas kuning digunakan untuk pengolahan jus, sedangkan varietas ungu dijual di pasar buah segar. Di Amerika Serikat sering digunakan sebagai bahan dalam campuran jus.

Ø  Manfaat Kesehatan & Gizi Makan Buah Markisa
·         Jus buah markisa mengurangi pertumbuhan sel kanker. Meskipun penelitian sedang dilakukan tentang masalah ini, fitokimia dalam jus buah yang dianggap menghambat pertumbuhan sel kanker.
·         Asam fenolik dan flavonoid hadir dalam buah yang seharusnya memilki fungsi melindungi jantung.
·         Profil fenolik buah ini dikenal aktivitas anti-mikroba.
·         Markisa merupakan sumber antioksidan yang baik, baik yang larut dalam air dan lemak.
·         Buah Passion dianggap baik untuk produk yang membutuhkan pasteurisasi.
·         Buah ini cukup tinggi di karbohidrat dan gula sederhana, yang menigkatkan kinerja atletik.
·         Mengandung sterol, yang membantu dalam menurunkan kadar kolesterol.
·         Buah Gairah adalah suatu reservoir vitamin C, vitamin A dan Kalium.
·         Benih buah merupakan sumber serat yang sangat vital

C.          Klasifikasi Tanaman Markisa
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Dilleniidae
 Ordo: Violales
Famili: Passifloraceae
Genus: Passiflora
Spesies: Passiflora edulis Sims

D.          Deskripsi Tanaman Markisa
http://i1251.photobucket.com/albums/hh554/harykayan/2.jpg
 
Markisa termasuk tanaman semak hidupnya menjalar panjang kuang lebih 10 m. Batang : Markisa mempunyai batang kecil, langsing, dan panjang sekali, bentuk persegi,semu, lunak, halus, warna hijau kecoklatan. Batangnya merambat dengan bantuan sulur berbentuk pilin (spiral).

Gambar D. Tanaman Markisa

Daun : Tunggal, lonjong, tersebar, panjang 7-20cm, lebar 5-15cm, tepi rata, ujung
runcing, pangkal membulat, pertulangan menyirip, permuka`n licin, tangkal persegi, panjang 2-6cm, dan berwarna hijau.


Bunga : 
http://i1251.photobucket.com/albums/hh554/harykayan/3.jpg
Gambar D. Bunga Markisa
Bunga tunggal, bulat berbentuk mangkok, berkelamin dua(hermafrodit) dan menempel di ketiak daun, tangkal bergerigi, panjang 3-4cm hijau, mahkota berbentuk lonjong, permukaannya beralur, warna ungu, benang sari bertangkai, bentuk tabung, 
panjang  6cm warna ungu, kepala sari silindris, panjang 6cm warna putih, 
putiknya pendek warna kuning dengan kelopak bunga berbntuk lonjong warna hijau.
beraroma khas harum. Semua jenis markisa (Passiflora) termasuk penyerbuk silang 
dengan bantuan lebah madu.penyerbukan sendiri masih dapat berlangsung baik.
Untuk mendapatkan hasil panen yang optimal, biasanya penyerbukan di lakukan oleh 
manusia seperti halnya penyerbukan pada tanaman fanily.
Buah : 
Bakal buah bentuknya sangat beragam
http://i1251.photobucket.com/albums/hh554/harykayan/1.jpg
Gambar D. Buah Markisa
Buah Markisa berbentuk lonjong dengan panjang 20 cm, diameter 15 cm 
berat 3-5 kg warna hijau ke putih putihan.Buah yang sudah masak/ranum 
berwarna kekuningan dan beraroma khas harum buah markisa. Biji : Bulat pipih panjang 0,3 cm, putih. Akar : Tunggang warna putih kotor
Kandungan :
Buah, biji, dan daun pada tanaman ini mengandung substansi yang tidak stabil, 
yaitu asam hidrosianat dan laktone. Sementara buah yang masak mengandung 
Ca, P, Fe.

Manfaat dan Khasiat
Daun Markisa/ Passiflora quadrangularis L berkhasiat untuk peluruh air seni, 
kencing nanah, 
sedangkan buahnya selain untuk sari buah segar (dicampur dengan sirup).juga 
dimanfaatkan 
untuk obat penenang juga berkhasiat menghilangkan rasa nyeri (analgesik) dan 
memperkuat paru.

Beberapa Herbalis
 memanfaatkan Seluruh bagian Markisa untuk digunakan 
sebagai 
obat dan berkhasiat sebagai anti radang, penenang (sedatif), peluruh kencing 
(diuretik), serta bersifat membersihkan panas dan racun.
Seorang herbalis yang mantan seorang Pendeta di daerah Malang
(Perumahan Sawojajar.) malah menggunakan markisa besar untuk
pengobatan kanker. 

Penyakit yang bisa diobati diantaranya :
  •     Batuk karena paru-paru panas
  •     Radang kelenjar getah bening leher (servikal limfadenitis)
  •     Sulit tidur (insomnia), sering gelisah dan bermimpi buruk
  •     Kelelahan kronis yang abnormal (neurasthenia)
  •     Hipertensi
  •     Bengkak (edema), kencing berlemak (chyluria)
  •     Penyakit kult seperti koreng, skabies, borok (ulcus) pada kaki.

Cara pemakaian :
1.      Untuk obat yang diminum : Rebus herba segar sebanyak 5--15 g, lalu minum airnya.
2.      Untuk pemakaian luar : Cuci herba segar secukupnya, lalu rebus.
3.      Setelah dingin gunakan airnya untuk mencuci penyakit kulit yang Anda alami.  Atau bisa juga dengan menurapkan herba segar yang telah digiling halus ke bagian yang sakit.

Syarat Tumbuh
Tanaman Markisa umumnya hanya ditanam di dataran rendah, tetapi didataran tinggi 
juga cocok (buktinya tanaman ini tumbuh subur didaerah saya Bululawang 
Kab.Malang - Jawatimur) yang ketinggianya berkisar 500- 721 m dpl.
Kondisi tanah yang dikehendaki banyak mengandung bahan organik (subur) dan 
pH 5,5-6,5. Lokasi tempat bertanam sebaiknya terbuka, walaupun tanaman 
tahan naungan. Tanaman tidak tahan terhadap kondisi lahan yang tergenang air.

Pedoman Budidaya
Perbanyakan tanaman Markisa ditanam dengan biji dan setek cabang. Setek ditanam 
di persemaian. Bila bibit berasal dari biji, sebaiknya biji disemaikan lebih dulu. 
Bibit dapat ditanam di kebun setelah mencapai ketinggian lebih dari 50 cm 
(berdaun 3-4 helai). Markisa dapat disambung. Batang bawah digunakan 
semai markisa rola atau konyal berdaun empat. Budi daya tanaman Tanah dicangkul 
dengan baik agar gulma dan alang-alang yang tumbuh hilang hingga ke akar-akarnya. 
Lubang tanam dibuat dengan ukuran 40 cm x 40 cm dengan kedalaman 30-40 cm. 
Setiap lubang diberi pupuk kandang yang telah matang sebanyak 10 kg. Bibit yang 
telah cukup umur ditanam dalam lubang.
Jarak antar lubang tanam 2 m x 5 m. Bibit dalam polibag sebaiknya ditanam pada akhir musim hujan (menjelang musim kemarau). Penanaman markisa pada akhir musim kemarau (menjelang musim hujan) akan memperlambat umur berbunga, yakni setelah 10-12 bulan. Penanaman pada akhir musim hujan menyebabkan tanaman akan berbunga pada umur sekitar enam bulan. Tanaman markisa dapat dirambatkan pada pohon hidup atau kayu Gliricidia. Markisa yang dirambatkan dengan sistem pagar produksinya lebih tinggi.

Pemeliharaan
http://i1251.photobucket.com/albums/hh554/harykayan/9.jpg
Gambar D. Pemeliharaan Markisa
Pemupukan dengan NPK (15:15:15) sebanyak 25-100 g per tanaman, 
tergantung umurnya. Dianjurkan perambatan dengan sistem pagar. Jaraknya 3 m agar pengaturan cabang lebih mudah dan dapat dikombinasi dengan tanaman lain (misalnya kopi). Sebagai tiang pagar dapat digunakan tanaman hidup (Gliricidia, kayu jaran Lannea grandis).Untuk menjalarkan batang markisa digunakan kawat yang dibentangkan mendatar seperti pada perambatan tanaman anggur. Setelah bibit yang ditanam di sepanjang pagar (jarak 2-3 m) mencapaibentangan kawat terbawah, ujung bibit segera dipotong. Dari tunas yang tumbuh, dipilih tiga tunas yang kekar. Dua tunas dijalarkan pada bentangan kawat terbawah dan satu lagi dibiarkan tumbuh mencapai bentangan kawat di atasnya. Pekerjaan seperti ini diulangi hingga semua kawat bentang dijalari oleh 1-2 tunas yang merupakan cabang buah. 
Bunga muncul pada ketiak daun, biasanya berdaun tunggal.
Bila cabang-cabang buah belum berbunga maka ujung cabang perlu 
dipotong (dipotes). Buah akan bergantung pada kawat tersebut dan sebaiknya buah yang sudah agak berumur sebaiknya di bungkus/di blongsong, ini berguna untuk melindungi buah dari serangan hama (bisa menggunakan kantong kresek yang sudah saya praktekkan). Namun, petani di Indonesia jarang melakukan pembungkusan dan pemangkasan seperti ini sehingga produksinya rendah.

Hama dan Penyakit
http://i1251.photobucket.com/albums/hh554/harykayan/10.jpg
Gambar D. Hama dan Penyakit Tanaman Markisa


Hama yang biasa menyerang tanaman markisa adalah lalat buah Dacus dorsalis dan nematoda bengkak akar yang disebabkan oleh Meloidogyne incognita. Kutu daun kuning Myzus persicae dan kutu putih Aphis gossypii sering terdapat pada daun. Hama ini dapat diatasi dengan semprotan insektisida Tamaron 0,2%. Penyakit yang biasa mengancam tanaman markisa adalah mati pucuk Phytophthora parasitica, penyakit layu Fusarium passiflorae, dan penyakit busuk leher akar (damping-offi pada bibit di persemaian yang disebabkan oleh cendawan Rhizoctonia solani. Kondisi lahan yang basah merangsang tumbuhnya penyakit-penyakit tersebut. Bila belum terlambat, penyakit ini dapat diatasi 
dengan Benlate 0,2% atau lisol 10-50%.

Panen dan Pasca Panen
http://i1251.photobucket.com/albums/hh554/harykayan/IMG01099-20121108-0901.jpg
Gambar D. Panen Buah Markisa

Buah markisa harus dipanen setelah matang pohon, yakni setelah berwarna kuning 
dan timbul aroma harum. Buah yang masih muda (warnanya hijau) sebaiknya tidak 

E.           Sabun Colek
Sabun cream sering juga disebut sabun colek. Sabun ini merupakan sabun yang multiguna. Bisa dipakai untuk membersihkan semua keperluan di rumah, cuci piring, cuci baju, atau pun untuk cuci mobil. Di Indonesia sabun colek masih tinggi permintaannya, karena banyak orang desa memakai sabun colek ini untuk berbagai keperluan  diantaranya seperti mencuci baju, mencuci piring, bahkan ada juga yang digunakan untuk mandi membersihkan badan dan keramas (cuci rambut).
Sebenarnya sabun colek diproduksi bukan untuk keperluan mencuci badan tetapi karena daya bersihnya kuat jadi mereka merasa nyaman memakainya. Sabun colek sebaiknya tidak dipakai untuk mencuci badan (mandi), dan mencuci rambut (keramas) karena bisa membuat kulit kepala dan rambut kering.
Sabun colek merupakan salah satu jenis keras. Sabun keras sendiri merupakan sabun yang mengandung ion natrium, karena dalam proses pembuatannya digunakan natrium hidroksida (soda api atau kaustik soda). Natrium hidroksida (NaOH) merupakan basa yang lebih keras daripada kalium hidroksida (KOH). Daya pemutihnya sangat iritatif (bersifat melukai) terhadap kulit.
Proses pembuatan sabun keras melibatkan reaksi kimia atau bahan baku sabun itu sendiri adalah :
1.      DEDOCYL BENZENE SULFONAT (DDBS)
Adalah bahan aktif (active ingredient) untuk membuat sabun colek, sebagian orang menyebutnya dengan nama ABS (alkyl benzene sulfonat), ini adalah bahan yang mutlak harus dipakai pada proses pembuatan sabun colek. Yang nantinya akan menentukan hasil akhir. Tanpa bahan ini sabun colek tidak akan memiliki daya bersih dalam pemakaian sabun colek, bahan ini berbentuk cairan yang biasanya berwarna coklat tua, yang berfungsi sebagai pembersih, ciri-ciri cairan ini adalah memiliki busa yang banyak bila di kucek.

2.      KAUSTIK SODA
Bahan ini berguna sebagai penetralisir sifat keasaman yang diakibatkan dalam pemakaian DDBS. Bahan ini berbentuk batangan atau flake. Sebelum dilakukan pencampuran, bahan ini harus dilarutkan dengan air dengan perbandingan 4:6 (misanya : 40 gram Kaustik Soda dengan 60 cc air campuran) atau bisa juga dengan skala perbandingan lain sesuai dengan formula masing-masing, tetapi umumnya 4:6. Cara melarutkan Kaustik soda harus dilakukan dengan hati-hati karena bahan ini bersifat keras terhadap kulit manusia.
3.      SODA ABU
Soda abu atau SODA ASH berbentuk bubuk, dan warnanya putih. Fungsinya untuk meningkatkan daya bersih, penambahan soda abu tidak terlalu banyak, karena dapat menimbulkan rasa panas di tangan saat sabun colek digunakan. Penggunaan soda abu yang dianjurkan dalam formula pembutan sabun colek adalah sekitar 7% dari komposisi total bahan sabun colek.
4.      SILIKAT
Biasanya dikenal dengan nama water glass, bahan ini berbentuk cairan kental dan tidak berwarna (bening). Berfungsi sebagai pengikat material dalam sabun colek. Penggunaan silikat juga akan memberikan kesan berkilau pada sabun colek, bahan ini sangat mudah beku, jadi bila tidak dipakai, sebaiknya bahan ini di simpan dengan tutup yang rapat
5.      AIR
Air merupakan bahan utama dalam pembuatan sabun colek, berfungsi untuk menyempurnakan reaksi dari formula sabun colek, air juga berfungsi untuk mengatur kekentalan sabun colek yang akan dihasilkan dari proses formula sabun colek.
6.      PEWARNA DAN PEWANGI
Pewarnaan berfungsi sebagai bahan tambahan (addictive) dan tidak akan mengurangi kualitas dari sabun colek, warna sabun colek yang asli adalah coklat, dan berbau kurang menarik.  Jadi penambahan parfum dan  pewarna dapat mempengaruhi perhatian konsumen terhadap sabun colek, jadi akan cepat terjual bila akan dijual. Biasanya digunakan warna kuning dan aroma jeruk agar lebih dapat menghilangkan bau kotoran yang akan dibersihkan.
7.      CMC = Carboxy methyel cellulose
Biasanya tersedia dalam bentuk garam, yaitu CMC (Na). Fungsinya dalam sabun colek adalah sebagai pengental / meningkatkan viskositas.
8.      STTP
Untuk mencegah redeposisi atau mencegah kotoran kembali ke baju (kain). Jadi tidak tepat kalau ditambahkan pada sabun cair cuci piring. Jika ingin sabun cairnya punya kelebihan dibanding sabun cair lainnya. Diberi bahan kimia semacam anti jamur / bakteri. Jadi tidak sekedar bersih tapi membunuh jamur / bakteri yang merugikan dari barang-barang yang dicuci sehingga tampak higienis.
Bahan-bahan yang dibutuhkan :
1.      Caustik soda .......................................................... 50 gram.
2.      STTP ...................................................................... 50 gram.
3.      CMC ...................................................................... 30 gram.
4.      Soda ash ................................................................ 100 gram.
5.      ABS ....................................................................... 300 gram.
6.      Bahan warna .......................................................... secukupnya.
7.      Air .......................................................................... 600 cc (2,5 glass).
8.      Bibit minyak wangi ................................................ 5 cc
9.      Caoline ................................................................... 50 gram.



F.             



BAB III
METODOLOGI
A.          Pengertian Metodologi
Metodologi berasal dari bahasa Yunani “metodos” dan “logos”, kata ini terdiri dari dua suku kata yaitu “metha” yang berarti melalui atau melewati dan “hodos” yang berarti jalan atau cara. Metode berarti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan. Logos artinya ilmu. Metodologi adalah ilmu-ilmu atau cara yang digunakan untuk memperolehkebenaran menggunakan penulusuran dengan tata cara tertentu dalam menemukan kebenaran, tergantung dari realitas yang sedang dikaji.
Ilmu terdiri atas empat prinsip:
1.      Keteraturan (orde)
2.      Sebab-musabab (determinisme)
3.      Kesederhanaan (parsimoni)
4.      Pengalaman yang dapat diamati (empirisme)
Dengan prinsip-prinsip yang demikian maka ada banyak jalan untuk menemukan kebenaran. Metodologi adalah tata cara yang menentukan proses penelusuran apa yang akan digunakan. Metodologi penelitian adalah tata cara yang lebih terperinci mengenai tahap-tahap melakukan sebuah penelitian
Menurut Kuntjaraningrat (1971 : 1), metode adalah cara kerja untuk memahami objek yang menjadi sasaran ilmu pengetahuan yang bersangkutan.

B.           Jenis Penelitian
“Metodologi penelitian” berasal dari kata “Metode” yang artinya cara yang tepat untuk melakukan sesuatu; dan “Logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi metodologi artinya cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara seksama untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan “penelitian” adalah suatu kegiatan untuk mencari, mencatat, merumuskan dan menganalisis sampai menyusun laporannya. (Drs. Cholid Narbuko dan Drs. Abu Achmadi, 2008 : 1)
Sedangkan menurut Rameli Agam (2009 :  94), Metode ilmiah dalam bentuk Metodologi penelitian direalisasikan dalam bentuk model, prosedur, dan format penelitian, seperti tentang metode atau teknik penelitian, instrumen penelitian, subjek penelitian, prosedur, desain, dan alat-alat bantu penelitian. Metodologi penelitian yang baik akan memberikan  kontribusi bagi tercapainya kesuksesan penelitian yang dilakukan. Dalam penelitian ini, penelitian menggunakan metode penelitian eksperimen1 untuk menguji rumusan hipotesis yang telah dibuat.




C.          Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian tentang insektisida alami dari Daun Markisa (Passiflora Edulis) ini dilakukan di empat tempat yang berbeda, yaitu:
1.      Laboratorium Kimia SMA Negeri 1 Gending,
2.      Desa Bladu Wetan Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo,
3.      Desa Jatiyadi Kecamatan Gending Kebupaten Probolinggo,
4.      dan di desa Tarokan Kidul Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo.
sedangkan pengambilan sampel kutu putih dan Daun Markisa (Passiflora Edulis) sebagai bahan dasar insektisida alami di SMA Negeri 1 Gending dan  pengambilan ulat di desa Jatiyadi Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo.

D.          Pemilihan Subjek
Subjek yang diteliti dalam penelitian ini adalah ekstrak Daun Markisa (Passiflora Edulis) yang banyak terdapat di Kabupaten Probolinggo, khususnya Kecamatan Gending dan Banyuanyar. Sedangkan objek yang diteliti adalah Kutu Putih (Mealybug) dan Ulat Tembakau.

E.           Teknik Pengumpulan Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah melalui beberapa cara sebagai berikut:
1.         Eksperimen
Metode ini berupa percobaan yang dilakukan dengan membuat berbagai macam formula. Ada dua percobaan yang dilakukan pada eksperimen ini yaitu:
o   Percobaan1
Membuat ekstrak Daun Markisa (Passiflora Edulis) yang didiamkan selama 24 jam yang selanjutnya diuji coba pada Hama Kutu Putih yang terdapat pada tanaman Hias dan Ulat pada Tanaman Tembakau. Cara mengujinya yaitu dengan kontak langsung (disemprotkan), kemudian efek setelah penyemprotan dapat diketahui dengan mengamati perubahan perilaku Kutu Putih dan Ulat Tembakau dalam beberapa menit.
o   Percobaan2
Membuat ekstrak Daun Markisa (Passiflora Edulis) yang kemudian dicampur dengan larutan sabun Krim (sabun colek). Setelah itu, kemudian mengujinya pada Hama Kutu Putih yang terdapat pada tanaman Hias dan Ulat pada Tanaman Tembakau. Cara mengujinya yaitu dengan kontak langsung (disemprotkan), kemudian efek setelah penyemprotan dapat diketahui debgan mengamati perubahan perilaku Kutu Putih dan Ulat Tembakau dalam beberapa menit.
2.         Dokumentasi
Metode ini dilakukan untuk mendokumentasikan saat percobaan dilakukan dan hasil yang diperoleh setelah percobaan dilakukan.



F.            Alat dan Bahan
f.1  Alat :
§  alat penumbuk atau blender
§  gelas kimia 200 ml 2 buah
§  1 pisau
§  saringan
§  gelas ukur
§  timbangan
§  alat semprot

f.2  Bahan :
§  Daun Markisa (Passiflora Edulis) 57,4 gram
§  air murni 200 ml
§  sabun colek 3,0 gram
G.          Langkah Kerja
G.1  Cara Kerja
a. Membuat Insektisida Daun Markisa (Passiflora Edulis)
- menimbang Daun Markisa (Passiflora Edulis) seberat 57,4 gram
- mencuci Daun Markisa (Passiflora Edulis) hingga bersih
-menumbuk Daun Markisa (Passiflora Edulis) sampai halus (jika tidak ada alat penumbuk bisa menggunakan blender)
- menambahkan 200 ml air murni
- kemudian ditumbuk hingga merata
- saring larutan ekstrak Daun Markisa (Passiflora Edulis) yang telah diaduk
- mendiamkan larutan tersebut selama 24 jam (sesuai yang dibutuhkan)
- menyemprotkan larutan tersebuat terhadap Kutu Putih dan Ulat Tembakau
- mengamati perubahan yang terjadi pada kutu putih dan ulat tersebut
- mencatat hasil pengamatan pada tabel pengamatan

b. Membuat Insektisida  Daun Markisa (Passiflora Edulis) dengan penambahan Sabun Colek
- menimbang Daun Markisa (Passiflora Edulis) seberat 57,4 gram dan Sabun Colek 3,0 gram
- mencuci Daun Markisa (Passiflora Edulis) hingga bersih
-menumbuk Daun Markisa (Passiflora Edulis) sampai halus (jika tidak ada alat penumbuk bisa menggunakan blender)
- menambahkan 200 ml air murni
- kemudian ditumbuk hingga merata
- tambahkan 3,0 gram sabun colek kemudian diaduk
- saring campuran larutan Daun Markisa (Passiflora Edulis) yang telah dicampur dengan sabun colek
- mendiamkan larutan tersebut selama 24 jam (sesuai yang dibutuhkan)
-menyemprotkan larutan Daun Markisa (Passiflora Edulis) pada kutu putih dan ulat tembakau
- mengamati perubahan yang terjadi pada kutu putih dan ulat tersebut
- mencatat hasil pengamatan pada tabel pengamatan

G.2  Rancangan Tabulasi data
Pengorganisasian data hasil pengamatan adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Rancangan tabulasi data
Lama pendiaman larutan insektisida
Lama waktu setelah penyemprotan
Hasil pengamatan
Keterangan





H.          Sumber Data
Data yang diperoleh berupa data primer dan data sekunder. Data Primer adalah berupa data percobaan saat pembuatan insektisida alami dari ekstrak Daun Markisa (Passiflora) dan penambahan sabun colek, saat dilakuka penyemprotan (kontak langsung), dan data tentang efek yang terjadi setelah dilakukan penyemprotan.
Sementara data sekunder diperoleh melalui beberapa literatur buku dan internet. Buku yang dimaksud adalah tentang pertanian organik, budidaya tanaman hias, tanaman obat, Pestisida Nabati, dan penulusuran tentang kandungan zat-zat kimia apa yang terdapat di dalam Daun Markisa (Passiflora Edulis) dan Sabun Colek diperoleh melalui internet.

I.              Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang kami gunakan adalah deskriptif, yaitu menggambarkan secara rinci mengenai hal-hal yang ada pada saat melakukan eksperimen (percobaan), yaitu saat pembuatan formula insektisida nabati dan saat penyemprotan (kontak langsung). Setelah itu, juga menggambarkan dengan rinci perubahan perilaku yang dialami Kutu Putih dan Ulat Tembakau setelah penyemprotan.








BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.          Kandungan  Zat Yang Terdapat dalam Daun Makisa dan Sabun Colek
Daun Markisa (Passiflora) merupakan salah satu tumbuhan yang mengandung bahan aktif insektisida. Markisa memang sangat banyak manfaat untuk kesehatan karena kandungan nutrisinya dan manfaat buah markisa yang berkhasiat sebagai pereda nyeri, anti-kejang, kolitis, penenang, dan antiradang. Gangguan seperti sembelit, disentri, insomnia, gangguan haid, batuk, serak, tenggorokan kering juga bisa dihalau dengan buah ini. Daging buah markisa digunakan untuk merilekskan saraf saat sakit kepala, meredakan diare, dan neurastenia (kelelahan kronis, lemah, tidak nafsu makan, tidak bisa konsentrasi, dan susah tidur). Penelitian invitro di University of Florida juga mendapati bahwa ekstrak buah markisa kuning banyak mengandung fitokimia yang mampu membunuh sel kanker. Fitokimia tersebut antara lain polifenol dan karotenoid. Kandungan fitokimia yang lain dalam markisa adalah harman, harmol, harmalin, passaflorine, harmine, karotenoid, viteksin, krisin, dan isoviteksin. Sedangkan kandungan gizinya antara lain: energi, lemak, protein, serat, mineral, kalsium, fosfor, zat besi, karoten, tiamin, riboflavin, niasin, asam askorbat, dan asam sitrat. Markisa membuat lebih mudah tidur markisa-5Markisa kaya vitamin-vitamin B yang menenangkan dan potassium yang merilekskan system syaraf. Orang-orang Amerika Selatan secara tradisional makan markisa untuk membantu tidur. Bahkan menurut mereka, makan 1 buah markisa sebelum tidur bisa membuat mimpi indah. Markisa mempunyai khasiat untuk menyembuhkan gejala alergi kronis. Juga pemulihan kondisi pasien liver dan ginjal, serta memicu peningkatan kekebalan tubuh dan kekuatan antibodi dalam darah. Bahkan, markisa juga mampu menyaring, memisahkan, dan membuang racun dari dalam tubuh. Selain itu, bisa meningkatkan kesegaran kulit tubuh dan merangsang pertumbuhan sel muda pada kulit wajah. Dari hasil penelitian laboratorium, markisa mengandung vitamin C dosis tinggi dan antioksidan. Banyak manfaat dari buah markisa terutama untuk kesehatan tubuh


B.           Proses Pengolahan Daun Markisa dan Sabun Colek Menjadi Insektisida Nabati
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan ekstrak Daun Markisa dan Sabun Colek untuk dijadikan insektisida alami yang bernilai ekonomis dan ramah lingkungan. Proses pembuatan insektisida ini melalui beberapa tahapan. Proses pertama adalah memilih Daun Markisa. Daun Markisa yang digunakan disini adalah yang sudah tua dan berwarna hijau tua. Sedangkan Sabun Colek yang dipakai adalah sabun colek yang biasa dipakai untuk semua kegiatan mencuci. Daun Markisa dan Sabun Colek ditimbang kemudian Daun Markisa dicuci. Setelah itu Daun Markisa tersebut ditumbuk atau diblender kemudian ditambah larutan Sabun Colek yang sebelumnya sudah campur dengan air dan jika sudah tercampur lalu disaring.
Untuk dijadikan sebuah ramuan (formula) insektisida, peneliti mencampurkan sabun Colek dengan takaran yang sesuai. Penambahan Sabun Colek bertujuan untuk  menghancurkan lapisan lilin yang terdapat pada tubuh Kutu Putih dan ulat serta pada telurnya. Setelah ekstrak Daun Markisa dan Sabun Colek dicampur, campuran tersebut didiamkan selama 24 jam. Setelah itu menyemprotkan pada tanaman yang terkena hama kutu putih dan hama ulat.
Daun Markisa dan Sabun Colek dapat dijadikan insektisida yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis (murah). Dikatakan murah karena tidak membutuhkan biaya yang terlalu mahal untuk membuat insektisida nabati ini. Sehingga harga yang relatif murah bisa dijangkau para petani maupun para budidaya tanaman hias di Indonesia, umumnya dan di Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo khususnya. Dengan cara seperti ini dapat mengurangi biaya produksi dan perawatan tanaman pertanian maupun tanaman hias.

C.          Faktor Penentu Keefektifan Insektisida Nabati Daun Markisa dan Sabun Colek
Setelah selesai membuat larutan insektisda, peneliti melakukan penyemprotan pada kutu putih dan ulat. Setelah disemprot
D.          Gryegrht
E.           Urehtgrht

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil eksperimen, Daun Markisa (Passiflora) dan Sabun Colek dapat digunakan sebagai insektisida nabati yang mampu membunuh hama Kutu Putih (Mealybag). Hala ini dapat disebabkan Daun Markisa dan Sabun Colek mengandung zat aktif dari golongan alkoloida yang dapat berpengaruh pada sistem kerja organ tubuh dari Hama Kutu Putih. Dalam hal ini Daun Markisa yang digunakan sebagai insektisida adalah Daun yang tua yaitu daun yang berwarna Hijau tua. Sedangkan Sabun Colek  yang digunakan adalah sisa Sabun Colek yang sudah dipakai.
Dalam proses pembuatan insektisida nabati kombinasi Sabun Colek. Takaran yang digunakan adalah 57,4 gram Daun Markisa (Passiflora) dan 3,0 gram Sabun Colek, 200 ml air murni. Penyemprotan dilakukan pada daun tanaman yang terdapat hama Kutu Putih (Mealybag).

5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian, penyusun menghimbau kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengaplikasian hasil penelitian ini. Di antaranya adalah dengan membudidayakan tanaman Markisa pada lahan kosong sehingga lahan tersebut menjadi lahan produktif. Dengan adanya kebun tanaman Markisa, Masyarakat selain dapat memanfaatkan buah Markisa juga dapat memanfaatkan Daun Markisa tersebut untuk dijadikan insektisida nabati pembasmi hama Kutu Putih. Sehubungan debgan hal tersebut, pemetintah hendaknya mensosialisasikan hasil-hasil penelitian insektisida nabati kepada seluruh lapisan masyarakat. Agar penelitian ini menjadi salah satu alternatif yang dapat membantu dalam krisis ekonomi global dan mengurangi damapak.enghimbau kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengaplikasian hasil penelitian ini. Di antaranya adalah dengan membudidayakan tanaman Markisa pada lahan kosong sehingga lahan tersebut menjadi lahan produktif. Dengan adanya kebun tanaman Markisa, Masyarakat selain dapat memanfaatkan buah Markisa juga dapat memanfaatkan Daun Markisa tersebut untuk dijadikan insektisida nabati pembasmi hama Kutu Putih. Sehubungan debgan hal tersebut, pemetintah hendaknya mensosialisasikan hasil-hasil penelitian insektisida nabati kepada seluruh lapisan masyarakat. Agar penelitian ini menjadi salah satu alternatif yang dapat membantu dalam krisis ekonomi global dan mengurangi damapak.