BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Indonesia
merupakan salah satu negara yang terletak di daerah beriklim tropis dan
mempunyai banyak kekayaan alam, baik berupa barang tambang, kekayaan laut,
hasil hutan, peternakan, tanah yang subur, perkebunan dan pertanian. Dengan
kondisi tanah yang subur dapat dimanfaatkan dalam mengembangkan berbagai macam
budidaya tanaman pangan hingga tanaman hias. Oleh karena itu, masyarakat
Indonesia banyak membuka lahan untuk melestarikan kekayaan alam tersebut,
khususnya dalam bidang pertanian dan budidaya tanaman hias. Sehingga Negara
Indonesia merupakan salah satu negara Agraris. Sebgai negara Agraris, Indonesia
memiliki jumlah penduduk relatif besar yang terdiri dari penduduk yang
mayoritas bercocok tanam atau bertani dan ada juga sebagian masyarakat
Indonesia yang terjun dalam usaha budidaya tanaman hias, karena kedua bidang
usaha tersebut merupakan salah satu mata pencaharian yang cocok dengan keadaan
alam Indonesia serta kemampuan masyarakat Indoesia yang pandai mengolah lahan
pertanian maupun tanaman hais. Meskipun kemampuan tersebut belum tentu dapat menghasilkan produk yang
memiliki kualitas tinggi. Akan tetapi, kemahiran masyarakyat indonesia itu
masih dapat dikembangkan. Hala yang terpenting adalah potensi alamnya yaitu
lahan pertanian yang luas dan subur.
Salah satu
daerah di Indonesia yang identik dengan
pertanian dan usaha budidaya tanaman hias adalah Kabupaten Probolinggo. Masyarakat
Probolinggo menanam banyak jenis rempah-rempah dan bahan pada lahan
pertaniannya. Bahkan daerah Kabupaten Probolinggo berpotensi dalam dalam
pengembangan budidaya tanaman pangan dan tanaman hias. Kabupaten Probolinggo
memiliki luas sekitar 1.696,166 km2, tepatnya pada 112051’
– 113030’ Bujur Timur dan 7040’ – 8010’
Lintang Selatan, yang berada pada ketinggian 0 – 2500 m dpl. Kawasan
Probolinggo memiliki iklim tropis dengan kondisi tanah yang subur, sehingga
potensi ini dimanfaatkan oleh masyarakat Probolinggo untuk membudidayakan
berbagai macam tanaman pangan hingga tanamna hias. Tanaman pangan yang banyak
dibudidayakan di daerah Kabupaten Probilinggo seprti padi, jagung, wortel,
kentang, bawang merah dan lain-lain. Sedangkan tanaman hias yang banyak
dibudidayakan adalah Palem, Kaktus, Anthurium,
Euphorbia, Kamboja Jepang (Adenium)
dan lain-lain. Akan tetapi, semua usaha tanaman pangan (pertanian) maupun
tanaman hias membutuhkan biaya dan kesabaran. Dikatakan demikian karena harga
bibit tanaman pangan seperti jagung, bawang merah, kentang dan bibit tanaman
hias seperti bibit Kamboja Jepang sangat mahal dan juga perwatannya yang
membutuhkan ketelatenan.
Selain itu juga
berpotensi terserang oleh hama yang membutuhkan kesabaran dalam penanganannya
serta biaya yang besar untuk membeli obat pembasminya. Hal ini yang menjadi
masalah yang dihadapi para pengusaha budidaya tanaman pangan dan tanaman hias
di Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo, sehingga menyebabkan produktifitas
dan kualitasnya menurun. Dalam rangka meningkatkan kulitas dan produktifitas usaha
budidaya tanaman pangan dan tanaman hias, maka perlu dilakukan penelitian
tentang bagaimana cara mengarasi dan mengendalikan hama yang dapat mengganggu
bahkan merusak tanaman tersebut. Salah satu cara untuk mengedalikan hama
tersebut yaitu dengan menggunakan insektisida. Insektisida yang tersedia saat
ini adalah insektisada hasil produksi pabrik dan merupakan obat hama sintetis
dengan harga mahal dan berpotensi mencemari lingkugan. Oleh karena itu, penulis
merasa terpanggil untuk melakukan penelitian ini dan berusaha untuk menemukan
solusi dari masalah tersebut. Solusi yang diinginkan adalah membuat insektisida
yang berasal dari tumbuhan Markisa yang efektif dalam membunuh serangga atau
hama yang ramah terhadap lingkungan dan bernilai ekonomis, sehingga dapat
meningkatkan kualitas dan produktifitas petani maupun usaha budidaya tanaman
hias.
B.
Rumusan
Masalah
1. Kandungan
zat apakah yang terdapat pada Daun Markisa (Passiflora) sehingga dapat
digunakan sebagai insektisida alami pembasmi hama Kutu putih (Mealybag) maupun
ulat?
2. Bagaimana
proses pengolahan Daun Markisa (Passiflora) sehingga dapat dijadikan
insektisida alami pembasmi hama Kutu putih (Mealybag) maupun ulat?
3. Faktor
apakah yang dapat menjadi penentu keefektifan insektisida alami Daun Markisa
(Passiflora) dalam membasmi hama Kutu putih (Mealybag) dan ulat?
4. Bagaiman
penggunaan insektisida alami Daun Markisa (Passiflora) dalam membasmi hama Kutu
putih (Mealybag) dan ulat?
C.
Tujuan
Penelitian
1. Mengetahui
kandungan zat yang terdapat pada Daun Markisa (Passiflora Edulis) sehingga
dapat digunakan sebagai insektisida alami pembasmi hama Kutu putih (Mealybag)
dan ulat?
2. Mengetahui
proses pengolahan Daun Markisa (Passiflora Edulis) sehingga dapat dijadikan
sebagai insektisida alami pembasmi Kutu putih (Mealybag) dan ulat?
3. Meneliti
faktor yang menjadi penentu keefektifan insektisida alami Daun Markisa
(Passiflora Edulis) dalam membasmi Kutu putih (Mealybag) dan ulat?
4. Mengetahui
penggunaan insektisida alami Daun Markisa (Passiflora Edulis) dalam membasmi Kutu
putih (Mealybag) dan ulat?
D.
Manfaat
Penelitian
1. Membuat
insektisida alami yang ramah lingkungan.
2. Membuat
insektisida alami yang bernilai ekonomis.
3. Meningkatkan
kualitas dan produktifitas budidaya tanaman pangan dan tanaman hias.
4.
Memanfaatkan lahan
kering untuk penanaman tanaman Daun Markisa (Passiflora Edulis).
E.
Asumsi
Penggunaan
Insektisida sintetis pada pengembangan budidaya tanaman pertanian dan tanaman
hias tidak selalu mencapai keberhasilan bahkan menimbulkan dampak negatif
seperti pencemaran lingkungan. Untuk itu, diperlukan insektisida yang ramah
lingkunganyang terbuat dari zat organik, serta banyak terdapat di Kawasan
Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo Jawa Timur. Insektisida yang dimaksud
berasal dari kombinasi ekstrak Daun Markisa dan Sabun Colek.
Tanaman Markisa
merupakan salah satu tumbuhan merambat yang buahnya dapat dijadikan sebagai
minuman markisa yang kaya akan nutrisi serta baik untuk kesehatan tubuh. Namun,
buah markisa yang sepintas hanya dianggap sebagai buah biasa saja nyatanya
memiliki berbagai khasiat sebagai obat. Zat kimia yang terkandung dalam Daun
Markisa (Passiflora) berkhasiat untuk peluruh air seni, kencing
nanah, sedangkan buahnya selain untuk sari buah segar (dicampur dengan
sirup).juga dimanfaatkan untuk obat penenang juga berkhasiat menghilangkan
rasa nyeri (analgesik) dan memperkuat paru. Adapun buah, biji, dan daun pada tanaman ini
mengandung substansi yang tidak stabil, yaitu asam hidrosianat dan
laktone. Sementara buah yang masak mengandung Ca, P, Fe.
F.
Hipotesis
Berdasarkan
asumsi yang telah dibuat secara teoritis, ddiperlukan suatu kesimpulan yang
sifatnya semantara. Oleh karena itu,peneliti membuat hipotesis kerja sebagai
berikut :
“Dengan
adanya zat dengankadar toksisitas tinggi dalam Daun Markisa (Passiflora Edulis),
mampu membasmi hama Kutu putih (Mealybag) maupun ulat lebih dari 50%”
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Insektisida
Sebagai Pemberantas Hama
Insektisida
merupakan substansi yang digunakan untuk mengontrol organisme yang mengganggu
(hama) tanaman hias atau pun organisme yang terlibat dalam penyebaran bibit
penyakit pada tanaman tersebut. Insektisida pada umumnya merupakan biosida,
yaitu bahan kimia yang diciptakan untuk membunuh organisme. Penggunaaan
insektisida untuk memberanta hama termasuk dalam kategori pemberantasan hama
secara kimiawi. Insektisida yang digunakan harus merupakan pestisida selektif.
Artinya, insektisida tersebut hanya membunuh organisme yang menjadi sasaran dan
tidak membunuh organisme yang lain. (Sri Pujiyanti, 2004 : 156).
Insektisida merupakan
bagian dari pestisida yang khusus untuk membasmi serangga. Kutu putih
(Mealybag) yang merupakan hama bagi tanaman Adenium tergolong serangga.
Sehingga formula (obat) untuk membasminya disebut Insektisida.
B.
Tanaman
Markisa
|
|
Markisa (portugis: maracuja; Spanyol:
maracuya) tergolong ke dalam tanaman genus Passiflora, berasal dari daerah
tropis dan sub tropis di Amerika. Di Indonesia terdapat dua jenis Markisa,
yaitu Markisa ungu (Passiflora edulis) yang tumbuh di dataran tinggi, dan Markisa
kuning (Passiflora flavicarva) yang tumbuh di dataran rendah. Sementara itu,
ada pula varian markisa yang tumbuh di daerah Sumatera Barat yang disebut
sebagai markisa manis (passiflora edulis
forma
flavicarva).
Gambar B. Buah Markisa
Markisa
segar tnggi di beta karoten, kalium, dan serat makanan.jus buah Markisa adalah
sumber yang baik asam askorbat (vitamin C), dan baik bagi orang-orang yang
memiliki tekanan darah tinggi. Varietas kuning digunakan untuk mengolah jus,
sedangkan varietas ungu dijual di pasar buah segar.
Di Meksiko, markisa
digunakan untuk membuat jus atau dimakan mentah dengan bubuk cabai dan jeruk
nipis.
Puerto Rico, di
mana buah ini dikenal sebagai “Parcha”, secara luas dipercaya dapat menurunkan
tekanan darah. Mungkin karena mengandung alkaloid harmala dan merupakan RIMA
ringan. Jus buah Markisa juga sangat umum di sana dan digunakan dalam jus, es
krim atau kue-kue.
Di Peru, markisa
digunakan dalam beberapa makanan penutup, terutama cheesecake. Hala ini juga
mabuk sendiri sebagai jus markisa dan digunakan dalam variasi ceviche dan
koktail, termasuk markisa masam, sebuah variasi dari Pisco Sour.
Di Filipina,
markisa umumnya dijual di pasar umum dan di sekolah umum. Beberapa vendor
menjual buah dengan sedotan di dalamnya untuk menyedot biji dan jus dalam.hal
ini tidak terlalu populer karena rasa asam, dan buah sangat musiman. Di
Vietnam, markisa dicampur dengan madu dan es untuk membuat smoothie menyegarkan.
Di Afrika
Selatan, markisa ang dikenal secara lokal sebagai Granadilla (varietas kuning
sebagai Guavadilla),digunakan untuk yogurt rasa. Hal ini digunakan untuk
membumbui minuman ringan seperti Schweppes Sparkling Granadilla dan minuman
ramah banyak. Hal ini sering dimakan mentah atau digunakan sebagai topping
untuk kue dan kue tar. Jus Granadilla biasanya tersedia di restoran. Varietas
kuning digunakan untuk pengolahan jus, sedangkan varietas ungu dijual di pasar
buah segar. Di Amerika Serikat sering digunakan sebagai bahan dalam campuran
jus.
Ø Manfaat
Kesehatan & Gizi Makan Buah Markisa
·
Jus buah markisa
mengurangi pertumbuhan sel kanker. Meskipun penelitian sedang dilakukan tentang
masalah ini, fitokimia dalam jus buah yang dianggap menghambat pertumbuhan sel
kanker.
·
Asam fenolik dan
flavonoid hadir dalam buah yang seharusnya memilki fungsi melindungi jantung.
·
Profil fenolik buah ini
dikenal aktivitas anti-mikroba.
·
Markisa merupakan sumber
antioksidan yang baik, baik yang larut dalam air dan lemak.
·
Buah Passion dianggap
baik untuk produk yang membutuhkan pasteurisasi.
·
Buah ini cukup tinggi
di karbohidrat dan gula sederhana, yang menigkatkan kinerja atletik.
·
Mengandung sterol, yang
membantu dalam menurunkan kadar kolesterol.
·
Buah Gairah adalah
suatu reservoir vitamin C, vitamin A dan Kalium.
·
Benih buah merupakan
sumber serat yang sangat vital
C.
Klasifikasi
Tanaman Markisa
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Dilleniidae
Ordo: Violales
Spesies: Passiflora edulis Sims
D.
Deskripsi
Tanaman Markisa
|
|
Markisa termasuk tanaman semak hidupnya
menjalar panjang kuang lebih 10 m. Batang : Markisa mempunyai batang kecil,
langsing, dan panjang sekali, bentuk persegi,semu, lunak, halus, warna
hijau kecoklatan. Batangnya merambat dengan bantuan sulur berbentuk pilin
(spiral).
Gambar
D. Tanaman Markisa
Daun :
Tunggal, lonjong, tersebar, panjang 7-20cm, lebar 5-15cm, tepi rata, ujung
runcing, pangkal membulat, pertulangan menyirip,
permuka`n licin, tangkal persegi, panjang 2-6cm, dan berwarna hijau.
Bunga :
Gambar D. Bunga Markisa
Bunga
tunggal, bulat berbentuk mangkok, berkelamin dua(hermafrodit) dan
menempel di ketiak daun, tangkal bergerigi, panjang 3-4cm hijau, mahkota
berbentuk lonjong, permukaannya beralur, warna ungu, benang sari
bertangkai, bentuk tabung,
panjang
6cm warna ungu, kepala sari silindris, panjang 6cm warna putih,
putiknya pendek warna kuning dengan kelopak bunga
berbntuk lonjong warna hijau.
beraroma khas harum. Semua jenis markisa (Passiflora)
termasuk penyerbuk silang
dengan
bantuan lebah madu.penyerbukan sendiri masih dapat berlangsung baik.
Untuk mendapatkan
hasil panen yang optimal, biasanya penyerbukan di lakukan oleh
manusia seperti halnya penyerbukan pada tanaman
fanily.
Buah :
Bakal buah bentuknya sangat beragam
Gambar D. Buah Markisa
Buah Markisa berbentuk lonjong dengan panjang 20 cm, diameter 15 cm
berat 3-5 kg warna hijau ke putih putihan.Buah yang sudah masak/ranum
berwarna kekuningan dan beraroma
khas harum buah markisa. Biji : Bulat pipih panjang 0,3 cm, putih. Akar :
Tunggang warna putih kotor
Kandungan :
Buah, biji,
dan daun pada tanaman ini mengandung substansi yang tidak stabil,
yaitu asam hidrosianat dan laktone. Sementara buah yang masak
mengandung
Ca, P, Fe.
Manfaat dan Khasiat
Daun Markisa/ Passiflora quadrangularis L
berkhasiat untuk peluruh air seni,
kencing nanah,
sedangkan buahnya selain untuk sari buah segar (dicampur dengan
sirup).juga
dimanfaatkan
untuk obat penenang juga berkhasiat menghilangkan rasa nyeri (analgesik)
dan
memperkuat paru.
Beberapa Herbalis
memanfaatkan Seluruh bagian Markisa
untuk digunakan
sebagai
obat dan berkhasiat sebagai anti radang, penenang (sedatif), peluruh
kencing
(diuretik), serta bersifat membersihkan panas dan racun.
Seorang herbalis yang mantan seorang Pendeta di daerah Malang
(Perumahan Sawojajar.) malah menggunakan markisa besar untuk
pengobatan kanker.
Penyakit yang bisa diobati diantaranya :
-
Batuk karena paru-paru panas
-
Radang kelenjar getah bening leher (servikal limfadenitis)
-
Sulit tidur (insomnia), sering gelisah dan bermimpi buruk
-
Kelelahan kronis yang abnormal (neurasthenia)
-
Hipertensi
-
Bengkak (edema), kencing berlemak (chyluria)
-
Penyakit kult seperti koreng, skabies, borok (ulcus) pada kaki.
Cara pemakaian :
1.
Untuk obat yang diminum : Rebus herba segar sebanyak
5--15 g, lalu minum airnya.
2.
Untuk pemakaian luar : Cuci herba segar secukupnya,
lalu rebus.
3.
Setelah dingin gunakan airnya untuk mencuci penyakit
kulit yang Anda alami. Atau bisa juga dengan menurapkan herba segar yang
telah digiling halus ke bagian yang sakit.
Syarat Tumbuh
Tanaman Markisa umumnya hanya ditanam di dataran
rendah, tetapi didataran tinggi
juga cocok
(buktinya tanaman ini tumbuh subur didaerah saya Bululawang
Kab.Malang -
Jawatimur) yang ketinggianya berkisar 500- 721 m dpl.
Kondisi
tanah yang dikehendaki banyak mengandung bahan organik (subur) dan
pH 5,5-6,5.
Lokasi tempat bertanam sebaiknya terbuka, walaupun tanaman
tahan
naungan. Tanaman tidak tahan terhadap kondisi lahan yang tergenang air.
Pedoman Budidaya
Perbanyakan tanaman Markisa ditanam dengan biji dan
setek cabang. Setek ditanam
di
persemaian. Bila bibit berasal dari biji, sebaiknya biji disemaikan lebih
dulu.
Bibit dapat
ditanam di kebun setelah mencapai ketinggian lebih dari 50 cm
(berdaun 3-4
helai). Markisa dapat disambung. Batang bawah digunakan
semai
markisa rola atau konyal berdaun empat. Budi daya tanaman Tanah dicangkul
dengan baik
agar gulma dan alang-alang yang tumbuh hilang hingga ke akar-akarnya.
Lubang tanam
dibuat dengan ukuran 40 cm x 40 cm dengan kedalaman 30-40 cm.
Setiap
lubang diberi pupuk kandang yang telah matang sebanyak 10 kg. Bibit yang
telah cukup
umur ditanam dalam lubang.
Jarak antar lubang
tanam 2 m x 5 m. Bibit dalam polibag sebaiknya ditanam pada akhir musim
hujan (menjelang musim kemarau). Penanaman markisa pada akhir musim
kemarau (menjelang musim hujan) akan memperlambat umur berbunga,
yakni setelah 10-12 bulan. Penanaman pada akhir musim hujan menyebabkan
tanaman akan berbunga pada umur sekitar enam bulan. Tanaman markisa dapat
dirambatkan pada pohon hidup atau kayu Gliricidia. Markisa yang
dirambatkan dengan sistem pagar produksinya lebih tinggi.
Pemeliharaan
Gambar D. Pemeliharaan Markisa
Pemupukan dengan NPK (15:15:15) sebanyak 25-100 g per
tanaman,
tergantung
umurnya. Dianjurkan perambatan dengan sistem pagar. Jaraknya 3 m agar
pengaturan cabang lebih mudah dan dapat dikombinasi dengan tanaman lain
(misalnya kopi). Sebagai tiang pagar dapat digunakan tanaman
hidup (Gliricidia, kayu jaran Lannea grandis).Untuk menjalarkan batang
markisa digunakan kawat yang dibentangkan mendatar seperti pada perambatan
tanaman anggur. Setelah bibit yang ditanam di sepanjang pagar (jarak 2-3
m) mencapaibentangan kawat terbawah, ujung bibit segera dipotong. Dari
tunas yang tumbuh, dipilih tiga tunas yang kekar. Dua tunas dijalarkan
pada bentangan kawat terbawah dan satu lagi dibiarkan tumbuh mencapai
bentangan kawat di atasnya. Pekerjaan seperti ini diulangi hingga semua
kawat bentang dijalari oleh 1-2 tunas yang merupakan cabang buah.
Bunga muncul pada ketiak daun, biasanya berdaun
tunggal.
Bila cabang-cabang
buah belum berbunga maka ujung cabang perlu
dipotong
(dipotes). Buah akan bergantung pada kawat tersebut dan sebaiknya buah
yang sudah agak berumur sebaiknya di bungkus/di blongsong, ini berguna
untuk melindungi buah dari serangan hama (bisa menggunakan kantong kresek
yang sudah saya praktekkan). Namun, petani di Indonesia jarang melakukan
pembungkusan dan pemangkasan seperti ini sehingga produksinya rendah.
Hama dan Penyakit
Gambar D. Hama dan Penyakit Tanaman
Markisa
Hama yang
biasa menyerang tanaman markisa adalah lalat buah Dacus dorsalis dan
nematoda bengkak akar yang disebabkan oleh Meloidogyne incognita. Kutu
daun kuning Myzus persicae dan kutu putih Aphis gossypii sering
terdapat pada daun. Hama ini dapat diatasi dengan semprotan insektisida
Tamaron 0,2%. Penyakit yang biasa mengancam tanaman markisa adalah mati
pucuk Phytophthora parasitica, penyakit layu Fusarium passiflorae, dan
penyakit busuk leher akar (damping-offi pada bibit di persemaian yang
disebabkan oleh cendawan Rhizoctonia solani. Kondisi lahan yang basah
merangsang tumbuhnya penyakit-penyakit tersebut. Bila belum terlambat,
penyakit ini dapat diatasi
dengan
Benlate 0,2% atau lisol 10-50%.
Panen dan Pasca Panen
Gambar D.
Panen Buah Markisa
Buah markisa harus dipanen setelah matang pohon, yakni
setelah berwarna kuning
dan timbul aroma harum. Buah yang masih muda (warnanya
hijau) sebaiknya tidak
dipanen
karena mutunya rendah. http://www.acemaxsurabaya.com/2012/11/budidaya-tanaman-markisa-dan-manfaatnya.html
E.
Sabun
Colek
Sabun cream
sering juga disebut sabun colek. Sabun ini merupakan sabun yang multiguna. Bisa
dipakai untuk membersihkan semua keperluan di rumah, cuci piring, cuci baju,
atau pun untuk cuci mobil. Di Indonesia sabun colek masih tinggi permintaannya,
karena banyak orang desa memakai sabun colek ini untuk berbagai keperluan diantaranya seperti mencuci baju, mencuci piring,
bahkan ada juga yang digunakan untuk mandi membersihkan badan dan keramas (cuci
rambut).
Sebenarnya sabun
colek diproduksi bukan untuk keperluan mencuci badan tetapi karena daya
bersihnya kuat jadi mereka merasa nyaman memakainya. Sabun colek sebaiknya
tidak dipakai untuk mencuci badan (mandi), dan mencuci rambut (keramas) karena
bisa membuat kulit kepala dan rambut kering.
Sabun colek merupakan
salah satu jenis keras. Sabun keras sendiri merupakan sabun yang mengandung ion
natrium, karena dalam proses pembuatannya digunakan natrium hidroksida (soda
api atau kaustik soda). Natrium hidroksida (NaOH) merupakan basa yang lebih
keras daripada kalium hidroksida (KOH). Daya pemutihnya sangat iritatif
(bersifat melukai) terhadap kulit.
Proses pembuatan
sabun keras melibatkan reaksi kimia atau bahan baku sabun itu sendiri adalah :
1. DEDOCYL
BENZENE SULFONAT (DDBS)
Adalah bahan aktif (active
ingredient) untuk membuat sabun colek, sebagian orang menyebutnya dengan nama
ABS (alkyl benzene sulfonat), ini adalah bahan yang mutlak harus dipakai pada
proses pembuatan sabun colek. Yang nantinya akan menentukan hasil akhir. Tanpa
bahan ini sabun colek tidak akan memiliki daya bersih dalam pemakaian sabun
colek, bahan ini berbentuk cairan yang biasanya berwarna coklat tua, yang
berfungsi sebagai pembersih, ciri-ciri cairan ini adalah memiliki busa yang
banyak bila di kucek.
2. KAUSTIK
SODA
Bahan
ini berguna sebagai penetralisir sifat keasaman yang diakibatkan dalam
pemakaian DDBS. Bahan ini berbentuk batangan atau flake. Sebelum dilakukan
pencampuran, bahan ini harus dilarutkan dengan air dengan perbandingan 4:6
(misanya : 40 gram Kaustik Soda dengan 60 cc air campuran) atau bisa juga
dengan skala perbandingan lain sesuai dengan formula masing-masing, tetapi
umumnya 4:6. Cara melarutkan Kaustik soda harus dilakukan dengan hati-hati
karena bahan ini bersifat keras terhadap kulit manusia.
3. SODA
ABU
Soda abu atau SODA ASH berbentuk
bubuk, dan warnanya putih. Fungsinya untuk meningkatkan daya bersih, penambahan
soda abu tidak terlalu banyak, karena dapat menimbulkan rasa panas di tangan
saat sabun colek digunakan. Penggunaan soda abu yang dianjurkan dalam formula
pembutan sabun colek adalah sekitar 7% dari komposisi total bahan sabun colek.
4. SILIKAT
Biasanya dikenal dengan nama water
glass, bahan ini berbentuk cairan kental dan tidak berwarna (bening). Berfungsi
sebagai pengikat material dalam sabun colek. Penggunaan silikat juga akan
memberikan kesan berkilau pada sabun colek, bahan ini sangat mudah beku, jadi
bila tidak dipakai, sebaiknya bahan ini di simpan dengan tutup yang rapat
5. AIR
Air merupakan bahan utama dalam
pembuatan sabun colek, berfungsi untuk menyempurnakan reaksi dari formula sabun
colek, air juga berfungsi untuk mengatur kekentalan sabun colek yang akan
dihasilkan dari proses formula sabun colek.
6. PEWARNA
DAN PEWANGI
Pewarnaan berfungsi sebagai bahan
tambahan (addictive) dan tidak akan mengurangi kualitas dari sabun colek, warna
sabun colek yang asli adalah coklat, dan berbau kurang menarik. Jadi penambahan parfum dan pewarna dapat mempengaruhi perhatian konsumen
terhadap sabun colek, jadi akan cepat terjual bila akan dijual. Biasanya
digunakan warna kuning dan aroma jeruk agar lebih dapat menghilangkan bau
kotoran yang akan dibersihkan.
7. CMC
= Carboxy methyel cellulose
Biasanya tersedia dalam bentuk
garam, yaitu CMC (Na). Fungsinya dalam sabun colek adalah sebagai pengental /
meningkatkan viskositas.
8. STTP
Untuk mencegah redeposisi atau
mencegah kotoran kembali ke baju (kain). Jadi tidak tepat kalau ditambahkan
pada sabun cair cuci piring. Jika ingin sabun cairnya punya kelebihan dibanding
sabun cair lainnya. Diberi bahan kimia semacam anti jamur / bakteri. Jadi tidak
sekedar bersih tapi membunuh jamur / bakteri yang merugikan dari barang-barang
yang dicuci sehingga tampak higienis.
Bahan-bahan yang dibutuhkan :
1. Caustik
soda .......................................................... 50 gram.
2. STTP
...................................................................... 50 gram.
3. CMC
...................................................................... 30 gram.
4. Soda
ash ................................................................ 100 gram.
5. ABS
....................................................................... 300
gram.
6. Bahan
warna .......................................................... secukupnya.
7. Air
.......................................................................... 600
cc (2,5 glass).
8. Bibit
minyak wangi ................................................ 5 cc
9. Caoline
................................................................... 50 gram.
F.
BAB III
METODOLOGI
A.
Pengertian
Metodologi
Metodologi
berasal dari bahasa Yunani “metodos” dan
“logos”, kata ini terdiri dari dua
suku kata yaitu “metha” yang berarti melalui atau melewati dan “hodos” yang
berarti jalan atau cara. Metode berarti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai
tujuan. Logos artinya ilmu. Metodologi adalah ilmu-ilmu atau cara yang
digunakan untuk memperolehkebenaran menggunakan penulusuran dengan tata cara
tertentu dalam menemukan kebenaran, tergantung dari realitas yang sedang
dikaji.
Ilmu terdiri atas empat prinsip:
1. Keteraturan
(orde)
2. Sebab-musabab
(determinisme)
3. Kesederhanaan
(parsimoni)
4. Pengalaman
yang dapat diamati (empirisme)
Dengan
prinsip-prinsip yang demikian maka ada banyak jalan untuk menemukan kebenaran.
Metodologi adalah tata cara yang menentukan proses penelusuran apa yang akan
digunakan. Metodologi penelitian adalah tata cara yang lebih terperinci
mengenai tahap-tahap melakukan sebuah penelitian
Menurut
Kuntjaraningrat (1971 : 1), metode adalah cara kerja untuk memahami objek yang
menjadi sasaran ilmu pengetahuan yang bersangkutan.
B.
Jenis
Penelitian
“Metodologi
penelitian” berasal dari kata “Metode” yang artinya cara yang tepat untuk
melakukan sesuatu; dan “Logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi metodologi
artinya cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara seksama untuk
mencapai suatu tujuan. Sedangkan “penelitian” adalah suatu kegiatan untuk
mencari, mencatat, merumuskan dan menganalisis sampai menyusun laporannya.
(Drs. Cholid Narbuko dan Drs. Abu Achmadi, 2008 : 1)
Sedangkan
menurut Rameli Agam (2009 : 94), Metode
ilmiah dalam bentuk Metodologi penelitian direalisasikan dalam bentuk model,
prosedur, dan format penelitian, seperti tentang metode atau teknik penelitian,
instrumen penelitian, subjek penelitian, prosedur, desain, dan alat-alat bantu
penelitian. Metodologi penelitian yang baik akan memberikan kontribusi bagi tercapainya kesuksesan
penelitian yang dilakukan. Dalam penelitian ini, penelitian menggunakan metode penelitian eksperimen1
untuk menguji rumusan hipotesis yang telah dibuat.
C.
Tempat
dan Waktu Penelitian
Penelitian
tentang insektisida alami dari Daun Markisa (Passiflora Edulis) ini dilakukan
di empat tempat yang berbeda, yaitu:
1.
Laboratorium Kimia SMA
Negeri 1 Gending,
2.
Desa Bladu Wetan Kecamatan
Banyuanyar Kabupaten Probolinggo,
3.
Desa Jatiyadi Kecamatan
Gending Kebupaten Probolinggo,
4.
dan di desa Tarokan
Kidul Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo.
sedangkan
pengambilan sampel kutu putih dan Daun Markisa (Passiflora Edulis) sebagai bahan
dasar insektisida alami di SMA Negeri 1 Gending dan pengambilan ulat di desa Jatiyadi Kecamatan
Gending Kabupaten Probolinggo.
D.
Pemilihan
Subjek
Subjek
yang diteliti dalam penelitian ini adalah ekstrak Daun Markisa (Passiflora
Edulis) yang banyak terdapat di Kabupaten Probolinggo, khususnya Kecamatan
Gending dan Banyuanyar. Sedangkan objek yang diteliti adalah Kutu Putih (Mealybug) dan Ulat Tembakau.
E.
Teknik
Pengumpulan Data
Data
yang diperoleh dalam penelitian ini adalah melalui beberapa cara sebagai
berikut:
1.
Eksperimen
Metode ini berupa
percobaan yang dilakukan dengan membuat berbagai macam formula. Ada dua
percobaan yang dilakukan pada eksperimen ini yaitu:
o
Percobaan1
Membuat
ekstrak Daun Markisa (Passiflora Edulis) yang didiamkan selama 24 jam yang
selanjutnya diuji coba pada Hama Kutu Putih yang terdapat pada tanaman Hias dan
Ulat pada Tanaman Tembakau. Cara mengujinya yaitu dengan kontak langsung
(disemprotkan), kemudian efek setelah penyemprotan dapat diketahui dengan
mengamati perubahan perilaku Kutu Putih dan Ulat Tembakau dalam beberapa menit.
o
Percobaan2
Membuat
ekstrak Daun Markisa (Passiflora Edulis) yang kemudian dicampur dengan larutan
sabun Krim (sabun colek). Setelah itu, kemudian mengujinya pada Hama Kutu Putih
yang terdapat pada tanaman Hias dan Ulat pada Tanaman Tembakau. Cara mengujinya
yaitu dengan kontak langsung (disemprotkan), kemudian efek setelah penyemprotan
dapat diketahui debgan mengamati perubahan perilaku Kutu Putih dan Ulat
Tembakau dalam beberapa menit.
2.
Dokumentasi
Metode ini dilakukan
untuk mendokumentasikan saat percobaan dilakukan dan hasil yang diperoleh
setelah percobaan dilakukan.
F.
Alat
dan Bahan
f.1 Alat :
§ alat
penumbuk atau blender
§ gelas
kimia 200 ml 2 buah
§ 1
pisau
§ saringan
§ gelas
ukur
§ timbangan
§ alat
semprot
f.2 Bahan :
§
Daun Markisa
(Passiflora Edulis) 57,4 gram
§
air murni 200 ml
§
sabun colek 3,0 gram
G.
Langkah
Kerja
G.1 Cara Kerja
a. Membuat Insektisida Daun
Markisa (Passiflora Edulis)
-
menimbang Daun Markisa (Passiflora Edulis) seberat 57,4 gram
-
mencuci Daun Markisa (Passiflora Edulis) hingga bersih
-menumbuk Daun Markisa
(Passiflora Edulis) sampai halus (jika tidak ada alat penumbuk bisa menggunakan
blender)
-
menambahkan 200 ml air murni
-
kemudian ditumbuk hingga merata
-
saring larutan ekstrak Daun Markisa (Passiflora Edulis) yang telah diaduk
-
mendiamkan larutan tersebut selama 24 jam (sesuai yang dibutuhkan)
-
menyemprotkan larutan tersebuat terhadap Kutu Putih dan Ulat Tembakau
-
mengamati perubahan yang terjadi pada kutu putih dan ulat tersebut
-
mencatat hasil pengamatan pada tabel pengamatan
b. Membuat
Insektisida Daun Markisa (Passiflora
Edulis) dengan penambahan Sabun Colek
-
menimbang Daun Markisa (Passiflora Edulis) seberat 57,4 gram dan Sabun Colek
3,0 gram
-
mencuci Daun Markisa (Passiflora Edulis) hingga bersih
-menumbuk Daun Markisa
(Passiflora Edulis) sampai halus (jika tidak ada alat penumbuk bisa menggunakan
blender)
- menambahkan
200 ml air murni
- kemudian
ditumbuk hingga merata
-
tambahkan 3,0 gram sabun colek kemudian diaduk
-
saring campuran larutan Daun Markisa (Passiflora Edulis) yang telah dicampur
dengan sabun colek
-
mendiamkan larutan tersebut selama 24 jam (sesuai yang dibutuhkan)
-menyemprotkan
larutan Daun Markisa (Passiflora Edulis) pada kutu putih dan ulat tembakau
-
mengamati perubahan yang terjadi pada kutu putih dan ulat tersebut
-
mencatat hasil pengamatan pada tabel pengamatan
G.2 Rancangan Tabulasi data
Pengorganisasian data hasil pengamatan
adalah sebagai berikut :
Tabel
1. Rancangan tabulasi data
|
Lama
pendiaman larutan insektisida
|
Lama
waktu setelah penyemprotan
|
Hasil
pengamatan
|
Keterangan
|
|
|
|
|
|
H.
Sumber
Data
Data
yang diperoleh berupa data primer dan data sekunder. Data Primer adalah berupa
data percobaan saat pembuatan insektisida alami dari ekstrak Daun Markisa
(Passiflora) dan penambahan sabun colek, saat dilakuka penyemprotan (kontak
langsung), dan data tentang efek yang terjadi setelah dilakukan penyemprotan.
Sementara
data sekunder diperoleh melalui beberapa literatur buku dan internet. Buku yang
dimaksud adalah tentang pertanian organik, budidaya tanaman hias, tanaman obat,
Pestisida Nabati, dan penulusuran tentang kandungan zat-zat kimia apa yang
terdapat di dalam Daun Markisa (Passiflora Edulis) dan Sabun Colek diperoleh
melalui internet.
I.
Teknik
Analisis Data
Teknik
analisis data yang kami gunakan adalah deskriptif, yaitu menggambarkan secara
rinci mengenai hal-hal yang ada pada saat melakukan eksperimen (percobaan),
yaitu saat pembuatan formula insektisida nabati dan saat penyemprotan (kontak
langsung). Setelah itu, juga menggambarkan dengan rinci perubahan perilaku yang
dialami Kutu Putih dan Ulat Tembakau setelah penyemprotan.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
A.
Kandungan Zat Yang Terdapat dalam Daun Makisa dan Sabun
Colek
Daun
Markisa (Passiflora) merupakan salah satu tumbuhan yang mengandung bahan aktif
insektisida. Markisa memang sangat banyak manfaat untuk kesehatan karena kandungan
nutrisinya dan manfaat buah markisa yang berkhasiat sebagai pereda nyeri,
anti-kejang, kolitis, penenang, dan antiradang. Gangguan seperti sembelit,
disentri, insomnia, gangguan haid, batuk, serak, tenggorokan kering juga bisa
dihalau dengan buah ini. Daging buah markisa digunakan untuk merilekskan saraf
saat sakit kepala, meredakan diare, dan neurastenia (kelelahan kronis, lemah,
tidak nafsu makan, tidak bisa konsentrasi, dan susah tidur). Penelitian invitro
di University of Florida juga mendapati bahwa ekstrak buah markisa kuning
banyak mengandung fitokimia yang mampu membunuh sel kanker. Fitokimia tersebut
antara lain polifenol dan karotenoid. Kandungan fitokimia yang lain dalam
markisa adalah harman, harmol, harmalin, passaflorine, harmine, karotenoid,
viteksin, krisin, dan isoviteksin. Sedangkan kandungan gizinya antara lain:
energi, lemak, protein, serat, mineral, kalsium, fosfor, zat besi, karoten,
tiamin, riboflavin, niasin, asam askorbat, dan asam sitrat. Markisa membuat
lebih mudah tidur markisa-5Markisa kaya vitamin-vitamin B yang menenangkan dan
potassium yang merilekskan system syaraf. Orang-orang Amerika Selatan secara
tradisional makan markisa untuk membantu tidur. Bahkan menurut mereka, makan 1
buah markisa sebelum tidur bisa membuat mimpi indah. Markisa mempunyai khasiat
untuk menyembuhkan gejala alergi kronis. Juga pemulihan kondisi pasien liver
dan ginjal, serta memicu peningkatan kekebalan tubuh dan kekuatan antibodi
dalam darah. Bahkan, markisa juga mampu menyaring, memisahkan, dan membuang
racun dari dalam tubuh. Selain itu, bisa meningkatkan kesegaran kulit tubuh dan
merangsang pertumbuhan sel muda pada kulit wajah. Dari hasil penelitian
laboratorium, markisa mengandung vitamin C dosis tinggi dan antioksidan. Banyak
manfaat dari buah markisa terutama untuk kesehatan tubuh
B.
Proses
Pengolahan Daun Markisa dan Sabun Colek Menjadi Insektisida Nabati
Pada penelitian ini,
peneliti menggunakan ekstrak Daun Markisa dan Sabun Colek untuk dijadikan
insektisida alami yang bernilai ekonomis dan ramah lingkungan. Proses pembuatan
insektisida ini melalui beberapa tahapan. Proses pertama adalah memilih Daun
Markisa. Daun Markisa yang digunakan disini adalah yang sudah tua dan berwarna
hijau tua. Sedangkan Sabun Colek yang dipakai adalah sabun colek yang biasa
dipakai untuk semua kegiatan mencuci. Daun Markisa dan Sabun Colek ditimbang
kemudian Daun Markisa dicuci. Setelah itu Daun Markisa tersebut ditumbuk atau
diblender kemudian ditambah larutan Sabun Colek yang sebelumnya sudah campur
dengan air dan jika sudah tercampur lalu disaring.
Untuk dijadikan sebuah
ramuan (formula) insektisida, peneliti mencampurkan sabun Colek dengan takaran
yang sesuai. Penambahan Sabun Colek bertujuan untuk menghancurkan lapisan lilin yang terdapat
pada tubuh Kutu Putih dan ulat serta pada telurnya. Setelah ekstrak Daun
Markisa dan Sabun Colek dicampur, campuran tersebut didiamkan selama 24 jam.
Setelah itu menyemprotkan pada tanaman yang terkena hama kutu putih dan hama
ulat.
Daun Markisa dan Sabun
Colek dapat dijadikan insektisida yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis
(murah). Dikatakan murah karena tidak membutuhkan biaya yang terlalu mahal
untuk membuat insektisida nabati ini. Sehingga harga yang relatif murah bisa
dijangkau para petani maupun para budidaya tanaman hias di Indonesia, umumnya
dan di Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo khususnya. Dengan cara seperti ini
dapat mengurangi biaya produksi dan perawatan tanaman pertanian maupun tanaman
hias.
C.
Faktor
Penentu Keefektifan Insektisida Nabati Daun Markisa dan Sabun Colek
Setelah
selesai membuat larutan insektisda, peneliti melakukan penyemprotan pada kutu
putih dan ulat. Setelah disemprot
D.
Gryegrht
E.
Urehtgrht
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Berdasarkan hasil
eksperimen, Daun Markisa (Passiflora) dan Sabun Colek dapat digunakan sebagai
insektisida nabati yang mampu membunuh hama Kutu Putih (Mealybag). Hala ini
dapat disebabkan Daun Markisa dan Sabun Colek mengandung zat aktif dari
golongan alkoloida yang dapat berpengaruh pada sistem kerja organ tubuh dari
Hama Kutu Putih. Dalam hal ini Daun Markisa yang digunakan sebagai insektisida
adalah Daun yang tua yaitu daun yang berwarna Hijau tua. Sedangkan Sabun
Colek yang digunakan adalah sisa Sabun
Colek yang sudah dipakai.
Dalam proses
pembuatan insektisida nabati kombinasi Sabun Colek. Takaran yang digunakan
adalah 57,4 gram Daun Markisa (Passiflora) dan 3,0 gram Sabun Colek, 200 ml air
murni. Penyemprotan dilakukan pada daun tanaman yang terdapat hama Kutu Putih
(Mealybag).
5.2
Saran
Berdasarkan hasil
penelitian, penyusun mBAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Indonesia
merupakan salah satu negara yang terletak di daerah beriklim tropis dan
mempunyai banyak kekayaan alam, baik berupa barang tambang, kekayaan laut,
hasil hutan, peternakan, tanah yang subur, perkebunan dan pertanian. Dengan
kondisi tanah yang subur dapat dimanfaatkan dalam mengembangkan berbagai macam
budidaya tanaman pangan hingga tanaman hias. Oleh karena itu, masyarakat
Indonesia banyak membuka lahan untuk melestarikan kekayaan alam tersebut,
khususnya dalam bidang pertanian dan budidaya tanaman hias. Sehingga Negara
Indonesia merupakan salah satu negara Agraris. Sebgai negara Agraris, Indonesia
memiliki jumlah penduduk relatif besar yang terdiri dari penduduk yang
mayoritas bercocok tanam atau bertani dan ada juga sebagian masyarakat
Indonesia yang terjun dalam usaha budidaya tanaman hias, karena kedua bidang
usaha tersebut merupakan salah satu mata pencaharian yang cocok dengan keadaan
alam Indonesia serta kemampuan masyarakat Indoesia yang pandai mengolah lahan
pertanian maupun tanaman hais. Meskipun kemampuan tersebut belum tentu dapat menghasilkan produk yang
memiliki kualitas tinggi. Akan tetapi, kemahiran masyarakyat indonesia itu
masih dapat dikembangkan. Hala yang terpenting adalah potensi alamnya yaitu
lahan pertanian yang luas dan subur.
Salah satu
daerah di Indonesia yang identik dengan
pertanian dan usaha budidaya tanaman hias adalah Kabupaten Probolinggo. Masyarakat
Probolinggo menanam banyak jenis rempah-rempah dan bahan pada lahan
pertaniannya. Bahkan daerah Kabupaten Probolinggo berpotensi dalam dalam
pengembangan budidaya tanaman pangan dan tanaman hias. Kabupaten Probolinggo
memiliki luas sekitar 1.696,166 km2, tepatnya pada 112051’
– 113030’ Bujur Timur dan 7040’ – 8010’
Lintang Selatan, yang berada pada ketinggian 0 – 2500 m dpl. Kawasan
Probolinggo memiliki iklim tropis dengan kondisi tanah yang subur, sehingga
potensi ini dimanfaatkan oleh masyarakat Probolinggo untuk membudidayakan
berbagai macam tanaman pangan hingga tanamna hias. Tanaman pangan yang banyak
dibudidayakan di daerah Kabupaten Probilinggo seprti padi, jagung, wortel,
kentang, bawang merah dan lain-lain. Sedangkan tanaman hias yang banyak
dibudidayakan adalah Palem, Kaktus, Anthurium,
Euphorbia, Kamboja Jepang (Adenium)
dan lain-lain. Akan tetapi, semua usaha tanaman pangan (pertanian) maupun
tanaman hias membutuhkan biaya dan kesabaran. Dikatakan demikian karena harga
bibit tanaman pangan seperti jagung, bawang merah, kentang dan bibit tanaman
hias seperti bibit Kamboja Jepang sangat mahal dan juga perwatannya yang
membutuhkan ketelatenan.
Selain itu juga
berpotensi terserang oleh hama yang membutuhkan kesabaran dalam penanganannya
serta biaya yang besar untuk membeli obat pembasminya. Hal ini yang menjadi
masalah yang dihadapi para pengusaha budidaya tanaman pangan dan tanaman hias
di Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo, sehingga menyebabkan produktifitas
dan kualitasnya menurun. Dalam rangka meningkatkan kulitas dan produktifitas usaha
budidaya tanaman pangan dan tanaman hias, maka perlu dilakukan penelitian
tentang bagaimana cara mengarasi dan mengendalikan hama yang dapat mengganggu
bahkan merusak tanaman tersebut. Salah satu cara untuk mengedalikan hama
tersebut yaitu dengan menggunakan insektisida. Insektisida yang tersedia saat
ini adalah insektisada hasil produksi pabrik dan merupakan obat hama sintetis
dengan harga mahal dan berpotensi mencemari lingkugan. Oleh karena itu, penulis
merasa terpanggil untuk melakukan penelitian ini dan berusaha untuk menemukan
solusi dari masalah tersebut. Solusi yang diinginkan adalah membuat insektisida
yang berasal dari tumbuhan Markisa yang efektif dalam membunuh serangga atau
hama yang ramah terhadap lingkungan dan bernilai ekonomis, sehingga dapat
meningkatkan kualitas dan produktifitas petani maupun usaha budidaya tanaman
hias.
B.
Rumusan
Masalah
1. Kandungan
zat apakah yang terdapat pada Daun Markisa (Passiflora) sehingga dapat
digunakan sebagai insektisida alami pembasmi hama Kutu putih (Mealybag) maupun
ulat?
2. Bagaimana
proses pengolahan Daun Markisa (Passiflora) sehingga dapat dijadikan
insektisida alami pembasmi hama Kutu putih (Mealybag) maupun ulat?
3. Faktor
apakah yang dapat menjadi penentu keefektifan insektisida alami Daun Markisa
(Passiflora) dalam membasmi hama Kutu putih (Mealybag) dan ulat?
4. Bagaiman
penggunaan insektisida alami Daun Markisa (Passiflora) dalam membasmi hama Kutu
putih (Mealybag) dan ulat?
C.
Tujuan
Penelitian
1. Mengetahui
kandungan zat yang terdapat pada Daun Markisa (Passiflora Edulis) sehingga
dapat digunakan sebagai insektisida alami pembasmi hama Kutu putih (Mealybag)
dan ulat?
2. Mengetahui
proses pengolahan Daun Markisa (Passiflora Edulis) sehingga dapat dijadikan
sebagai insektisida alami pembasmi Kutu putih (Mealybag) dan ulat?
3. Meneliti
faktor yang menjadi penentu keefektifan insektisida alami Daun Markisa
(Passiflora Edulis) dalam membasmi Kutu putih (Mealybag) dan ulat?
4. Mengetahui
penggunaan insektisida alami Daun Markisa (Passiflora Edulis) dalam membasmi Kutu
putih (Mealybag) dan ulat?
D.
Manfaat
Penelitian
1. Membuat
insektisida alami yang ramah lingkungan.
2. Membuat
insektisida alami yang bernilai ekonomis.
3. Meningkatkan
kualitas dan produktifitas budidaya tanaman pangan dan tanaman hias.
4.
Memanfaatkan lahan
kering untuk penanaman tanaman Daun Markisa (Passiflora Edulis).
E.
Asumsi
Penggunaan
Insektisida sintetis pada pengembangan budidaya tanaman pertanian dan tanaman
hias tidak selalu mencapai keberhasilan bahkan menimbulkan dampak negatif
seperti pencemaran lingkungan. Untuk itu, diperlukan insektisida yang ramah
lingkunganyang terbuat dari zat organik, serta banyak terdapat di Kawasan
Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo Jawa Timur. Insektisida yang dimaksud
berasal dari kombinasi ekstrak Daun Markisa dan Sabun Colek.
Tanaman Markisa
merupakan salah satu tumbuhan merambat yang buahnya dapat dijadikan sebagai
minuman markisa yang kaya akan nutrisi serta baik untuk kesehatan tubuh. Namun,
buah markisa yang sepintas hanya dianggap sebagai buah biasa saja nyatanya
memiliki berbagai khasiat sebagai obat. Zat kimia yang terkandung dalam Daun
Markisa (Passiflora) berkhasiat untuk peluruh air seni, kencing
nanah, sedangkan buahnya selain untuk sari buah segar (dicampur dengan
sirup).juga dimanfaatkan untuk obat penenang juga berkhasiat menghilangkan
rasa nyeri (analgesik) dan memperkuat paru. Adapun buah, biji, dan daun pada tanaman ini
mengandung substansi yang tidak stabil, yaitu asam hidrosianat dan
laktone. Sementara buah yang masak mengandung Ca, P, Fe.
F.
Hipotesis
Berdasarkan
asumsi yang telah dibuat secara teoritis, ddiperlukan suatu kesimpulan yang
sifatnya semantara. Oleh karena itu,peneliti membuat hipotesis kerja sebagai
berikut :
“Dengan
adanya zat dengankadar toksisitas tinggi dalam Daun Markisa (Passiflora Edulis),
mampu membasmi hama Kutu putih (Mealybag) maupun ulat lebih dari 50%”
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Insektisida
Sebagai Pemberantas Hama
Insektisida
merupakan substansi yang digunakan untuk mengontrol organisme yang mengganggu
(hama) tanaman hias atau pun organisme yang terlibat dalam penyebaran bibit
penyakit pada tanaman tersebut. Insektisida pada umumnya merupakan biosida,
yaitu bahan kimia yang diciptakan untuk membunuh organisme. Penggunaaan
insektisida untuk memberanta hama termasuk dalam kategori pemberantasan hama
secara kimiawi. Insektisida yang digunakan harus merupakan pestisida selektif.
Artinya, insektisida tersebut hanya membunuh organisme yang menjadi sasaran dan
tidak membunuh organisme yang lain. (Sri Pujiyanti, 2004 : 156).
Insektisida merupakan
bagian dari pestisida yang khusus untuk membasmi serangga. Kutu putih
(Mealybag) yang merupakan hama bagi tanaman Adenium tergolong serangga.
Sehingga formula (obat) untuk membasminya disebut Insektisida.
B.
Tanaman
Markisa
|
|
Markisa (portugis: maracuja; Spanyol:
maracuya) tergolong ke dalam tanaman genus Passiflora, berasal dari daerah
tropis dan sub tropis di Amerika. Di Indonesia terdapat dua jenis Markisa,
yaitu Markisa ungu (Passiflora edulis) yang tumbuh di dataran tinggi, dan Markisa
kuning (Passiflora flavicarva) yang tumbuh di dataran rendah. Sementara itu,
ada pula varian markisa yang tumbuh di daerah Sumatera Barat yang disebut
sebagai markisa manis (passiflora edulis
forma
flavicarva).
Gambar B. Buah Markisa
Markisa
segar tnggi di beta karoten, kalium, dan serat makanan.jus buah Markisa adalah
sumber yang baik asam askorbat (vitamin C), dan baik bagi orang-orang yang
memiliki tekanan darah tinggi. Varietas kuning digunakan untuk mengolah jus,
sedangkan varietas ungu dijual di pasar buah segar.
Di Meksiko, markisa
digunakan untuk membuat jus atau dimakan mentah dengan bubuk cabai dan jeruk
nipis.
Puerto Rico, di
mana buah ini dikenal sebagai “Parcha”, secara luas dipercaya dapat menurunkan
tekanan darah. Mungkin karena mengandung alkaloid harmala dan merupakan RIMA
ringan. Jus buah Markisa juga sangat umum di sana dan digunakan dalam jus, es
krim atau kue-kue.
Di Peru, markisa
digunakan dalam beberapa makanan penutup, terutama cheesecake. Hala ini juga
mabuk sendiri sebagai jus markisa dan digunakan dalam variasi ceviche dan
koktail, termasuk markisa masam, sebuah variasi dari Pisco Sour.
Di Filipina,
markisa umumnya dijual di pasar umum dan di sekolah umum. Beberapa vendor
menjual buah dengan sedotan di dalamnya untuk menyedot biji dan jus dalam.hal
ini tidak terlalu populer karena rasa asam, dan buah sangat musiman. Di
Vietnam, markisa dicampur dengan madu dan es untuk membuat smoothie menyegarkan.
Di Afrika
Selatan, markisa ang dikenal secara lokal sebagai Granadilla (varietas kuning
sebagai Guavadilla),digunakan untuk yogurt rasa. Hal ini digunakan untuk
membumbui minuman ringan seperti Schweppes Sparkling Granadilla dan minuman
ramah banyak. Hal ini sering dimakan mentah atau digunakan sebagai topping
untuk kue dan kue tar. Jus Granadilla biasanya tersedia di restoran. Varietas
kuning digunakan untuk pengolahan jus, sedangkan varietas ungu dijual di pasar
buah segar. Di Amerika Serikat sering digunakan sebagai bahan dalam campuran
jus.
Ø Manfaat
Kesehatan & Gizi Makan Buah Markisa
·
Jus buah markisa
mengurangi pertumbuhan sel kanker. Meskipun penelitian sedang dilakukan tentang
masalah ini, fitokimia dalam jus buah yang dianggap menghambat pertumbuhan sel
kanker.
·
Asam fenolik dan
flavonoid hadir dalam buah yang seharusnya memilki fungsi melindungi jantung.
·
Profil fenolik buah ini
dikenal aktivitas anti-mikroba.
·
Markisa merupakan sumber
antioksidan yang baik, baik yang larut dalam air dan lemak.
·
Buah Passion dianggap
baik untuk produk yang membutuhkan pasteurisasi.
·
Buah ini cukup tinggi
di karbohidrat dan gula sederhana, yang menigkatkan kinerja atletik.
·
Mengandung sterol, yang
membantu dalam menurunkan kadar kolesterol.
·
Buah Gairah adalah
suatu reservoir vitamin C, vitamin A dan Kalium.
·
Benih buah merupakan
sumber serat yang sangat vital
C.
Klasifikasi
Tanaman Markisa
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Dilleniidae
Ordo: Violales
Spesies: Passiflora edulis Sims
D.
Deskripsi
Tanaman Markisa
|
|
Markisa termasuk tanaman semak hidupnya
menjalar panjang kuang lebih 10 m. Batang : Markisa mempunyai batang kecil,
langsing, dan panjang sekali, bentuk persegi,semu, lunak, halus, warna
hijau kecoklatan. Batangnya merambat dengan bantuan sulur berbentuk pilin
(spiral).
Gambar
D. Tanaman Markisa
Daun :
Tunggal, lonjong, tersebar, panjang 7-20cm, lebar 5-15cm, tepi rata, ujung
runcing, pangkal membulat, pertulangan menyirip,
permuka`n licin, tangkal persegi, panjang 2-6cm, dan berwarna hijau.
Bunga :
Gambar D. Bunga Markisa
Bunga
tunggal, bulat berbentuk mangkok, berkelamin dua(hermafrodit) dan
menempel di ketiak daun, tangkal bergerigi, panjang 3-4cm hijau, mahkota
berbentuk lonjong, permukaannya beralur, warna ungu, benang sari
bertangkai, bentuk tabung,
panjang
6cm warna ungu, kepala sari silindris, panjang 6cm warna putih,
putiknya pendek warna kuning dengan kelopak bunga
berbntuk lonjong warna hijau.
beraroma khas harum. Semua jenis markisa (Passiflora)
termasuk penyerbuk silang
dengan
bantuan lebah madu.penyerbukan sendiri masih dapat berlangsung baik.
Untuk mendapatkan
hasil panen yang optimal, biasanya penyerbukan di lakukan oleh
manusia seperti halnya penyerbukan pada tanaman
fanily.
Buah :
Bakal buah bentuknya sangat beragam
Gambar D. Buah Markisa
Buah Markisa berbentuk lonjong dengan panjang 20 cm, diameter 15 cm
berat 3-5 kg warna hijau ke putih putihan.Buah yang sudah masak/ranum
berwarna kekuningan dan beraroma
khas harum buah markisa. Biji : Bulat pipih panjang 0,3 cm, putih. Akar :
Tunggang warna putih kotor
Kandungan :
Buah, biji,
dan daun pada tanaman ini mengandung substansi yang tidak stabil,
yaitu asam hidrosianat dan laktone. Sementara buah yang masak
mengandung
Ca, P, Fe.
Manfaat dan Khasiat
Daun Markisa/ Passiflora quadrangularis L
berkhasiat untuk peluruh air seni,
kencing nanah,
sedangkan buahnya selain untuk sari buah segar (dicampur dengan
sirup).juga
dimanfaatkan
untuk obat penenang juga berkhasiat menghilangkan rasa nyeri (analgesik)
dan
memperkuat paru.
Beberapa Herbalis
memanfaatkan Seluruh bagian Markisa
untuk digunakan
sebagai
obat dan berkhasiat sebagai anti radang, penenang (sedatif), peluruh
kencing
(diuretik), serta bersifat membersihkan panas dan racun.
Seorang herbalis yang mantan seorang Pendeta di daerah Malang
(Perumahan Sawojajar.) malah menggunakan markisa besar untuk
pengobatan kanker.
Penyakit yang bisa diobati diantaranya :
-
Batuk karena paru-paru panas
-
Radang kelenjar getah bening leher (servikal limfadenitis)
-
Sulit tidur (insomnia), sering gelisah dan bermimpi buruk
-
Kelelahan kronis yang abnormal (neurasthenia)
-
Hipertensi
-
Bengkak (edema), kencing berlemak (chyluria)
-
Penyakit kult seperti koreng, skabies, borok (ulcus) pada kaki.
Cara pemakaian :
1.
Untuk obat yang diminum : Rebus herba segar sebanyak
5--15 g, lalu minum airnya.
2.
Untuk pemakaian luar : Cuci herba segar secukupnya,
lalu rebus.
3.
Setelah dingin gunakan airnya untuk mencuci penyakit
kulit yang Anda alami. Atau bisa juga dengan menurapkan herba segar yang
telah digiling halus ke bagian yang sakit.
Syarat Tumbuh
Tanaman Markisa umumnya hanya ditanam di dataran
rendah, tetapi didataran tinggi
juga cocok
(buktinya tanaman ini tumbuh subur didaerah saya Bululawang
Kab.Malang -
Jawatimur) yang ketinggianya berkisar 500- 721 m dpl.
Kondisi
tanah yang dikehendaki banyak mengandung bahan organik (subur) dan
pH 5,5-6,5.
Lokasi tempat bertanam sebaiknya terbuka, walaupun tanaman
tahan
naungan. Tanaman tidak tahan terhadap kondisi lahan yang tergenang air.
Pedoman Budidaya
Perbanyakan tanaman Markisa ditanam dengan biji dan
setek cabang. Setek ditanam
di
persemaian. Bila bibit berasal dari biji, sebaiknya biji disemaikan lebih
dulu.
Bibit dapat
ditanam di kebun setelah mencapai ketinggian lebih dari 50 cm
(berdaun 3-4
helai). Markisa dapat disambung. Batang bawah digunakan
semai
markisa rola atau konyal berdaun empat. Budi daya tanaman Tanah dicangkul
dengan baik
agar gulma dan alang-alang yang tumbuh hilang hingga ke akar-akarnya.
Lubang tanam
dibuat dengan ukuran 40 cm x 40 cm dengan kedalaman 30-40 cm.
Setiap
lubang diberi pupuk kandang yang telah matang sebanyak 10 kg. Bibit yang
telah cukup
umur ditanam dalam lubang.
Jarak antar lubang
tanam 2 m x 5 m. Bibit dalam polibag sebaiknya ditanam pada akhir musim
hujan (menjelang musim kemarau). Penanaman markisa pada akhir musim
kemarau (menjelang musim hujan) akan memperlambat umur berbunga,
yakni setelah 10-12 bulan. Penanaman pada akhir musim hujan menyebabkan
tanaman akan berbunga pada umur sekitar enam bulan. Tanaman markisa dapat
dirambatkan pada pohon hidup atau kayu Gliricidia. Markisa yang
dirambatkan dengan sistem pagar produksinya lebih tinggi.
Pemeliharaan
Gambar D. Pemeliharaan Markisa
Pemupukan dengan NPK (15:15:15) sebanyak 25-100 g per
tanaman,
tergantung
umurnya. Dianjurkan perambatan dengan sistem pagar. Jaraknya 3 m agar
pengaturan cabang lebih mudah dan dapat dikombinasi dengan tanaman lain
(misalnya kopi). Sebagai tiang pagar dapat digunakan tanaman
hidup (Gliricidia, kayu jaran Lannea grandis).Untuk menjalarkan batang
markisa digunakan kawat yang dibentangkan mendatar seperti pada perambatan
tanaman anggur. Setelah bibit yang ditanam di sepanjang pagar (jarak 2-3
m) mencapaibentangan kawat terbawah, ujung bibit segera dipotong. Dari
tunas yang tumbuh, dipilih tiga tunas yang kekar. Dua tunas dijalarkan
pada bentangan kawat terbawah dan satu lagi dibiarkan tumbuh mencapai
bentangan kawat di atasnya. Pekerjaan seperti ini diulangi hingga semua
kawat bentang dijalari oleh 1-2 tunas yang merupakan cabang buah.
Bunga muncul pada ketiak daun, biasanya berdaun
tunggal.
Bila cabang-cabang
buah belum berbunga maka ujung cabang perlu
dipotong
(dipotes). Buah akan bergantung pada kawat tersebut dan sebaiknya buah
yang sudah agak berumur sebaiknya di bungkus/di blongsong, ini berguna
untuk melindungi buah dari serangan hama (bisa menggunakan kantong kresek
yang sudah saya praktekkan). Namun, petani di Indonesia jarang melakukan
pembungkusan dan pemangkasan seperti ini sehingga produksinya rendah.
Hama dan Penyakit
Gambar D. Hama dan Penyakit Tanaman
Markisa
Hama yang
biasa menyerang tanaman markisa adalah lalat buah Dacus dorsalis dan
nematoda bengkak akar yang disebabkan oleh Meloidogyne incognita. Kutu
daun kuning Myzus persicae dan kutu putih Aphis gossypii sering
terdapat pada daun. Hama ini dapat diatasi dengan semprotan insektisida
Tamaron 0,2%. Penyakit yang biasa mengancam tanaman markisa adalah mati
pucuk Phytophthora parasitica, penyakit layu Fusarium passiflorae, dan
penyakit busuk leher akar (damping-offi pada bibit di persemaian yang
disebabkan oleh cendawan Rhizoctonia solani. Kondisi lahan yang basah
merangsang tumbuhnya penyakit-penyakit tersebut. Bila belum terlambat,
penyakit ini dapat diatasi
dengan
Benlate 0,2% atau lisol 10-50%.
Panen dan Pasca Panen
Gambar D.
Panen Buah Markisa
Buah markisa harus dipanen setelah matang pohon, yakni
setelah berwarna kuning
dan timbul aroma harum. Buah yang masih muda (warnanya
hijau) sebaiknya tidak
dipanen
karena mutunya rendah. http://www.acemaxsurabaya.com/2012/11/budidaya-tanaman-markisa-dan-manfaatnya.html
E.
Sabun
Colek
Sabun cream
sering juga disebut sabun colek. Sabun ini merupakan sabun yang multiguna. Bisa
dipakai untuk membersihkan semua keperluan di rumah, cuci piring, cuci baju,
atau pun untuk cuci mobil. Di Indonesia sabun colek masih tinggi permintaannya,
karena banyak orang desa memakai sabun colek ini untuk berbagai keperluan diantaranya seperti mencuci baju, mencuci piring,
bahkan ada juga yang digunakan untuk mandi membersihkan badan dan keramas (cuci
rambut).
Sebenarnya sabun
colek diproduksi bukan untuk keperluan mencuci badan tetapi karena daya
bersihnya kuat jadi mereka merasa nyaman memakainya. Sabun colek sebaiknya
tidak dipakai untuk mencuci badan (mandi), dan mencuci rambut (keramas) karena
bisa membuat kulit kepala dan rambut kering.
Sabun colek merupakan
salah satu jenis keras. Sabun keras sendiri merupakan sabun yang mengandung ion
natrium, karena dalam proses pembuatannya digunakan natrium hidroksida (soda
api atau kaustik soda). Natrium hidroksida (NaOH) merupakan basa yang lebih
keras daripada kalium hidroksida (KOH). Daya pemutihnya sangat iritatif
(bersifat melukai) terhadap kulit.
Proses pembuatan
sabun keras melibatkan reaksi kimia atau bahan baku sabun itu sendiri adalah :
1. DEDOCYL
BENZENE SULFONAT (DDBS)
Adalah bahan aktif (active
ingredient) untuk membuat sabun colek, sebagian orang menyebutnya dengan nama
ABS (alkyl benzene sulfonat), ini adalah bahan yang mutlak harus dipakai pada
proses pembuatan sabun colek. Yang nantinya akan menentukan hasil akhir. Tanpa
bahan ini sabun colek tidak akan memiliki daya bersih dalam pemakaian sabun
colek, bahan ini berbentuk cairan yang biasanya berwarna coklat tua, yang
berfungsi sebagai pembersih, ciri-ciri cairan ini adalah memiliki busa yang
banyak bila di kucek.
2. KAUSTIK
SODA
Bahan
ini berguna sebagai penetralisir sifat keasaman yang diakibatkan dalam
pemakaian DDBS. Bahan ini berbentuk batangan atau flake. Sebelum dilakukan
pencampuran, bahan ini harus dilarutkan dengan air dengan perbandingan 4:6
(misanya : 40 gram Kaustik Soda dengan 60 cc air campuran) atau bisa juga
dengan skala perbandingan lain sesuai dengan formula masing-masing, tetapi
umumnya 4:6. Cara melarutkan Kaustik soda harus dilakukan dengan hati-hati
karena bahan ini bersifat keras terhadap kulit manusia.
3. SODA
ABU
Soda abu atau SODA ASH berbentuk
bubuk, dan warnanya putih. Fungsinya untuk meningkatkan daya bersih, penambahan
soda abu tidak terlalu banyak, karena dapat menimbulkan rasa panas di tangan
saat sabun colek digunakan. Penggunaan soda abu yang dianjurkan dalam formula
pembutan sabun colek adalah sekitar 7% dari komposisi total bahan sabun colek.
4. SILIKAT
Biasanya dikenal dengan nama water
glass, bahan ini berbentuk cairan kental dan tidak berwarna (bening). Berfungsi
sebagai pengikat material dalam sabun colek. Penggunaan silikat juga akan
memberikan kesan berkilau pada sabun colek, bahan ini sangat mudah beku, jadi
bila tidak dipakai, sebaiknya bahan ini di simpan dengan tutup yang rapat
5. AIR
Air merupakan bahan utama dalam
pembuatan sabun colek, berfungsi untuk menyempurnakan reaksi dari formula sabun
colek, air juga berfungsi untuk mengatur kekentalan sabun colek yang akan
dihasilkan dari proses formula sabun colek.
6. PEWARNA
DAN PEWANGI
Pewarnaan berfungsi sebagai bahan
tambahan (addictive) dan tidak akan mengurangi kualitas dari sabun colek, warna
sabun colek yang asli adalah coklat, dan berbau kurang menarik. Jadi penambahan parfum dan pewarna dapat mempengaruhi perhatian konsumen
terhadap sabun colek, jadi akan cepat terjual bila akan dijual. Biasanya
digunakan warna kuning dan aroma jeruk agar lebih dapat menghilangkan bau
kotoran yang akan dibersihkan.
7. CMC
= Carboxy methyel cellulose
Biasanya tersedia dalam bentuk
garam, yaitu CMC (Na). Fungsinya dalam sabun colek adalah sebagai pengental /
meningkatkan viskositas.
8. STTP
Untuk mencegah redeposisi atau
mencegah kotoran kembali ke baju (kain). Jadi tidak tepat kalau ditambahkan
pada sabun cair cuci piring. Jika ingin sabun cairnya punya kelebihan dibanding
sabun cair lainnya. Diberi bahan kimia semacam anti jamur / bakteri. Jadi tidak
sekedar bersih tapi membunuh jamur / bakteri yang merugikan dari barang-barang
yang dicuci sehingga tampak higienis.
Bahan-bahan yang dibutuhkan :
1. Caustik
soda .......................................................... 50 gram.
2. STTP
...................................................................... 50 gram.
3. CMC
...................................................................... 30 gram.
4. Soda
ash ................................................................ 100 gram.
5. ABS
....................................................................... 300
gram.
6. Bahan
warna .......................................................... secukupnya.
7. Air
.......................................................................... 600
cc (2,5 glass).
8. Bibit
minyak wangi ................................................ 5 cc
9. Caoline
................................................................... 50 gram.
F.
BAB III
METODOLOGI
A.
Pengertian
Metodologi
Metodologi
berasal dari bahasa Yunani “metodos” dan
“logos”, kata ini terdiri dari dua
suku kata yaitu “metha” yang berarti melalui atau melewati dan “hodos” yang
berarti jalan atau cara. Metode berarti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai
tujuan. Logos artinya ilmu. Metodologi adalah ilmu-ilmu atau cara yang
digunakan untuk memperolehkebenaran menggunakan penulusuran dengan tata cara
tertentu dalam menemukan kebenaran, tergantung dari realitas yang sedang
dikaji.
Ilmu terdiri atas empat prinsip:
1. Keteraturan
(orde)
2. Sebab-musabab
(determinisme)
3. Kesederhanaan
(parsimoni)
4. Pengalaman
yang dapat diamati (empirisme)
Dengan
prinsip-prinsip yang demikian maka ada banyak jalan untuk menemukan kebenaran.
Metodologi adalah tata cara yang menentukan proses penelusuran apa yang akan
digunakan. Metodologi penelitian adalah tata cara yang lebih terperinci
mengenai tahap-tahap melakukan sebuah penelitian
Menurut
Kuntjaraningrat (1971 : 1), metode adalah cara kerja untuk memahami objek yang
menjadi sasaran ilmu pengetahuan yang bersangkutan.
B.
Jenis
Penelitian
“Metodologi
penelitian” berasal dari kata “Metode” yang artinya cara yang tepat untuk
melakukan sesuatu; dan “Logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi metodologi
artinya cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara seksama untuk
mencapai suatu tujuan. Sedangkan “penelitian” adalah suatu kegiatan untuk
mencari, mencatat, merumuskan dan menganalisis sampai menyusun laporannya.
(Drs. Cholid Narbuko dan Drs. Abu Achmadi, 2008 : 1)
Sedangkan
menurut Rameli Agam (2009 : 94), Metode
ilmiah dalam bentuk Metodologi penelitian direalisasikan dalam bentuk model,
prosedur, dan format penelitian, seperti tentang metode atau teknik penelitian,
instrumen penelitian, subjek penelitian, prosedur, desain, dan alat-alat bantu
penelitian. Metodologi penelitian yang baik akan memberikan kontribusi bagi tercapainya kesuksesan
penelitian yang dilakukan. Dalam penelitian ini, penelitian menggunakan metode penelitian eksperimen1
untuk menguji rumusan hipotesis yang telah dibuat.
C.
Tempat
dan Waktu Penelitian
Penelitian
tentang insektisida alami dari Daun Markisa (Passiflora Edulis) ini dilakukan
di empat tempat yang berbeda, yaitu:
1.
Laboratorium Kimia SMA
Negeri 1 Gending,
2.
Desa Bladu Wetan Kecamatan
Banyuanyar Kabupaten Probolinggo,
3.
Desa Jatiyadi Kecamatan
Gending Kebupaten Probolinggo,
4.
dan di desa Tarokan
Kidul Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo.
sedangkan
pengambilan sampel kutu putih dan Daun Markisa (Passiflora Edulis) sebagai bahan
dasar insektisida alami di SMA Negeri 1 Gending dan pengambilan ulat di desa Jatiyadi Kecamatan
Gending Kabupaten Probolinggo.
D.
Pemilihan
Subjek
Subjek
yang diteliti dalam penelitian ini adalah ekstrak Daun Markisa (Passiflora
Edulis) yang banyak terdapat di Kabupaten Probolinggo, khususnya Kecamatan
Gending dan Banyuanyar. Sedangkan objek yang diteliti adalah Kutu Putih (Mealybug) dan Ulat Tembakau.
E.
Teknik
Pengumpulan Data
Data
yang diperoleh dalam penelitian ini adalah melalui beberapa cara sebagai
berikut:
1.
Eksperimen
Metode ini berupa
percobaan yang dilakukan dengan membuat berbagai macam formula. Ada dua
percobaan yang dilakukan pada eksperimen ini yaitu:
o
Percobaan1
Membuat
ekstrak Daun Markisa (Passiflora Edulis) yang didiamkan selama 24 jam yang
selanjutnya diuji coba pada Hama Kutu Putih yang terdapat pada tanaman Hias dan
Ulat pada Tanaman Tembakau. Cara mengujinya yaitu dengan kontak langsung
(disemprotkan), kemudian efek setelah penyemprotan dapat diketahui dengan
mengamati perubahan perilaku Kutu Putih dan Ulat Tembakau dalam beberapa menit.
o
Percobaan2
Membuat
ekstrak Daun Markisa (Passiflora Edulis) yang kemudian dicampur dengan larutan
sabun Krim (sabun colek). Setelah itu, kemudian mengujinya pada Hama Kutu Putih
yang terdapat pada tanaman Hias dan Ulat pada Tanaman Tembakau. Cara mengujinya
yaitu dengan kontak langsung (disemprotkan), kemudian efek setelah penyemprotan
dapat diketahui debgan mengamati perubahan perilaku Kutu Putih dan Ulat
Tembakau dalam beberapa menit.
2.
Dokumentasi
Metode ini dilakukan
untuk mendokumentasikan saat percobaan dilakukan dan hasil yang diperoleh
setelah percobaan dilakukan.
F.
Alat
dan Bahan
f.1 Alat :
§ alat
penumbuk atau blender
§ gelas
kimia 200 ml 2 buah
§ 1
pisau
§ saringan
§ gelas
ukur
§ timbangan
§ alat
semprot
f.2 Bahan :
§
Daun Markisa
(Passiflora Edulis) 57,4 gram
§
air murni 200 ml
§
sabun colek 3,0 gram
G.
Langkah
Kerja
G.1 Cara Kerja
a. Membuat Insektisida Daun
Markisa (Passiflora Edulis)
-
menimbang Daun Markisa (Passiflora Edulis) seberat 57,4 gram
-
mencuci Daun Markisa (Passiflora Edulis) hingga bersih
-menumbuk Daun Markisa
(Passiflora Edulis) sampai halus (jika tidak ada alat penumbuk bisa menggunakan
blender)
-
menambahkan 200 ml air murni
-
kemudian ditumbuk hingga merata
-
saring larutan ekstrak Daun Markisa (Passiflora Edulis) yang telah diaduk
-
mendiamkan larutan tersebut selama 24 jam (sesuai yang dibutuhkan)
-
menyemprotkan larutan tersebuat terhadap Kutu Putih dan Ulat Tembakau
-
mengamati perubahan yang terjadi pada kutu putih dan ulat tersebut
-
mencatat hasil pengamatan pada tabel pengamatan
b. Membuat
Insektisida Daun Markisa (Passiflora
Edulis) dengan penambahan Sabun Colek
-
menimbang Daun Markisa (Passiflora Edulis) seberat 57,4 gram dan Sabun Colek
3,0 gram
-
mencuci Daun Markisa (Passiflora Edulis) hingga bersih
-menumbuk Daun Markisa
(Passiflora Edulis) sampai halus (jika tidak ada alat penumbuk bisa menggunakan
blender)
- menambahkan
200 ml air murni
- kemudian
ditumbuk hingga merata
-
tambahkan 3,0 gram sabun colek kemudian diaduk
-
saring campuran larutan Daun Markisa (Passiflora Edulis) yang telah dicampur
dengan sabun colek
-
mendiamkan larutan tersebut selama 24 jam (sesuai yang dibutuhkan)
-menyemprotkan
larutan Daun Markisa (Passiflora Edulis) pada kutu putih dan ulat tembakau
-
mengamati perubahan yang terjadi pada kutu putih dan ulat tersebut
-
mencatat hasil pengamatan pada tabel pengamatan
G.2 Rancangan Tabulasi data
Pengorganisasian data hasil pengamatan
adalah sebagai berikut :
Tabel
1. Rancangan tabulasi data
|
Lama
pendiaman larutan insektisida
|
Lama
waktu setelah penyemprotan
|
Hasil
pengamatan
|
Keterangan
|
|
|
|
|
|
H.
Sumber
Data
Data
yang diperoleh berupa data primer dan data sekunder. Data Primer adalah berupa
data percobaan saat pembuatan insektisida alami dari ekstrak Daun Markisa
(Passiflora) dan penambahan sabun colek, saat dilakuka penyemprotan (kontak
langsung), dan data tentang efek yang terjadi setelah dilakukan penyemprotan.
Sementara
data sekunder diperoleh melalui beberapa literatur buku dan internet. Buku yang
dimaksud adalah tentang pertanian organik, budidaya tanaman hias, tanaman obat,
Pestisida Nabati, dan penulusuran tentang kandungan zat-zat kimia apa yang
terdapat di dalam Daun Markisa (Passiflora Edulis) dan Sabun Colek diperoleh
melalui internet.
I.
Teknik
Analisis Data
Teknik
analisis data yang kami gunakan adalah deskriptif, yaitu menggambarkan secara
rinci mengenai hal-hal yang ada pada saat melakukan eksperimen (percobaan),
yaitu saat pembuatan formula insektisida nabati dan saat penyemprotan (kontak
langsung). Setelah itu, juga menggambarkan dengan rinci perubahan perilaku yang
dialami Kutu Putih dan Ulat Tembakau setelah penyemprotan.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
A.
Kandungan Zat Yang Terdapat dalam Daun Makisa dan Sabun
Colek
Daun
Markisa (Passiflora) merupakan salah satu tumbuhan yang mengandung bahan aktif
insektisida. Markisa memang sangat banyak manfaat untuk kesehatan karena kandungan
nutrisinya dan manfaat buah markisa yang berkhasiat sebagai pereda nyeri,
anti-kejang, kolitis, penenang, dan antiradang. Gangguan seperti sembelit,
disentri, insomnia, gangguan haid, batuk, serak, tenggorokan kering juga bisa
dihalau dengan buah ini. Daging buah markisa digunakan untuk merilekskan saraf
saat sakit kepala, meredakan diare, dan neurastenia (kelelahan kronis, lemah,
tidak nafsu makan, tidak bisa konsentrasi, dan susah tidur). Penelitian invitro
di University of Florida juga mendapati bahwa ekstrak buah markisa kuning
banyak mengandung fitokimia yang mampu membunuh sel kanker. Fitokimia tersebut
antara lain polifenol dan karotenoid. Kandungan fitokimia yang lain dalam
markisa adalah harman, harmol, harmalin, passaflorine, harmine, karotenoid,
viteksin, krisin, dan isoviteksin. Sedangkan kandungan gizinya antara lain:
energi, lemak, protein, serat, mineral, kalsium, fosfor, zat besi, karoten,
tiamin, riboflavin, niasin, asam askorbat, dan asam sitrat. Markisa membuat
lebih mudah tidur markisa-5Markisa kaya vitamin-vitamin B yang menenangkan dan
potassium yang merilekskan system syaraf. Orang-orang Amerika Selatan secara
tradisional makan markisa untuk membantu tidur. Bahkan menurut mereka, makan 1
buah markisa sebelum tidur bisa membuat mimpi indah. Markisa mempunyai khasiat
untuk menyembuhkan gejala alergi kronis. Juga pemulihan kondisi pasien liver
dan ginjal, serta memicu peningkatan kekebalan tubuh dan kekuatan antibodi
dalam darah. Bahkan, markisa juga mampu menyaring, memisahkan, dan membuang
racun dari dalam tubuh. Selain itu, bisa meningkatkan kesegaran kulit tubuh dan
merangsang pertumbuhan sel muda pada kulit wajah. Dari hasil penelitian
laboratorium, markisa mengandung vitamin C dosis tinggi dan antioksidan. Banyak
manfaat dari buah markisa terutama untuk kesehatan tubuh
B.
Proses
Pengolahan Daun Markisa dan Sabun Colek Menjadi Insektisida Nabati
Pada penelitian ini,
peneliti menggunakan ekstrak Daun Markisa dan Sabun Colek untuk dijadikan
insektisida alami yang bernilai ekonomis dan ramah lingkungan. Proses pembuatan
insektisida ini melalui beberapa tahapan. Proses pertama adalah memilih Daun
Markisa. Daun Markisa yang digunakan disini adalah yang sudah tua dan berwarna
hijau tua. Sedangkan Sabun Colek yang dipakai adalah sabun colek yang biasa
dipakai untuk semua kegiatan mencuci. Daun Markisa dan Sabun Colek ditimbang
kemudian Daun Markisa dicuci. Setelah itu Daun Markisa tersebut ditumbuk atau
diblender kemudian ditambah larutan Sabun Colek yang sebelumnya sudah campur
dengan air dan jika sudah tercampur lalu disaring.
Untuk dijadikan sebuah
ramuan (formula) insektisida, peneliti mencampurkan sabun Colek dengan takaran
yang sesuai. Penambahan Sabun Colek bertujuan untuk menghancurkan lapisan lilin yang terdapat
pada tubuh Kutu Putih dan ulat serta pada telurnya. Setelah ekstrak Daun
Markisa dan Sabun Colek dicampur, campuran tersebut didiamkan selama 24 jam.
Setelah itu menyemprotkan pada tanaman yang terkena hama kutu putih dan hama
ulat.
Daun Markisa dan Sabun
Colek dapat dijadikan insektisida yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis
(murah). Dikatakan murah karena tidak membutuhkan biaya yang terlalu mahal
untuk membuat insektisida nabati ini. Sehingga harga yang relatif murah bisa
dijangkau para petani maupun para budidaya tanaman hias di Indonesia, umumnya
dan di Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo khususnya. Dengan cara seperti ini
dapat mengurangi biaya produksi dan perawatan tanaman pertanian maupun tanaman
hias.
C.
Faktor
Penentu Keefektifan Insektisida Nabati Daun Markisa dan Sabun Colek
Setelah
selesai membuat larutan insektisda, peneliti melakukan penyemprotan pada kutu
putih dan ulat. Setelah disemprot
D.
Gryegrht
E.
Urehtgrht
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Berdasarkan hasil
eksperimen, Daun Markisa (Passiflora) dan Sabun Colek dapat digunakan sebagai
insektisida nabati yang mampu membunuh hama Kutu Putih (Mealybag). Hala ini
dapat disebabkan Daun Markisa dan Sabun Colek mengandung zat aktif dari
golongan alkoloida yang dapat berpengaruh pada sistem kerja organ tubuh dari
Hama Kutu Putih. Dalam hal ini Daun Markisa yang digunakan sebagai insektisida
adalah Daun yang tua yaitu daun yang berwarna Hijau tua. Sedangkan Sabun
Colek yang digunakan adalah sisa Sabun
Colek yang sudah dipakai.
Dalam proses
pembuatan insektisida nabati kombinasi Sabun Colek. Takaran yang digunakan
adalah 57,4 gram Daun Markisa (Passiflora) dan 3,0 gram Sabun Colek, 200 ml air
murni. Penyemprotan dilakukan pada daun tanaman yang terdapat hama Kutu Putih
(Mealybag).
5.2
Saran
Berdasarkan hasil
penelitian, penyusun menghimbau kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam
pengaplikasian hasil penelitian ini. Di antaranya adalah dengan membudidayakan
tanaman Markisa pada lahan kosong sehingga lahan tersebut menjadi lahan
produktif. Dengan adanya kebun tanaman Markisa, Masyarakat selain dapat
memanfaatkan buah Markisa juga dapat memanfaatkan Daun Markisa tersebut untuk
dijadikan insektisida nabati pembasmi hama Kutu Putih. Sehubungan debgan hal
tersebut, pemetintah hendaknya mensosialisasikan hasil-hasil penelitian
insektisida nabati kepada seluruh lapisan masyarakat. Agar penelitian ini
menjadi salah satu alternatif yang dapat membantu dalam krisis ekonomi global
dan mengurangi damapak.enghimbau kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam
pengaplikasian hasil penelitian ini. Di antaranya adalah dengan membudidayakan
tanaman Markisa pada lahan kosong sehingga lahan tersebut menjadi lahan
produktif. Dengan adanya kebun tanaman Markisa, Masyarakat selain dapat
memanfaatkan buah Markisa juga dapat memanfaatkan Daun Markisa tersebut untuk
dijadikan insektisida nabati pembasmi hama Kutu Putih. Sehubungan debgan hal
tersebut, pemetintah hendaknya mensosialisasikan hasil-hasil penelitian
insektisida nabati kepada seluruh lapisan masyarakat. Agar penelitian ini
menjadi salah satu alternatif yang dapat membantu dalam krisis ekonomi global
dan mengurangi damapak.






