Jumat, 11 September 2015

ABSTRAK
Munculnya persoalan yang sedang dihadapi masyarakat tidak terjadi dengan sendirinya dan tidak sesederhana yang kita bayangkan. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi konflik dalam persoalan tersebut. Seperti yang sering kita ketahui dalam kehidupan masyarakat saat ini, pertikaian biasanya terjadi karena peran pemuda yang kurang diarahkan dalam hal positif dan adanya suatu perbedaan karekter. Sehingga muncullah pertikaian antar pemuda indonesia, diantaranya pertikaian antar pelajar, penyiraman air keras oleh pelajar, tawuran antar kampung, etnik, agama, dan lain sebagainya. Itu merupakan sesuatu yang miris, tragis, dan menyedihkan bagi suatu bangsa.
Indonesia merupakan sebuah negara yang memilki keunikan antar satu daerah dengan daerah lainnya. Selain adanya suatu perbedaan karakter bangsa, juga dikenal dengan jumlah penduduknya yang sangat besar. Jumlah penduduk yang besar dapat membawa Indonesia menuju pembangunan nasional yang lebih baik. Jumlah penduduk yang besar pula seharusnya membuat kehidupan suatu negara menjadi makmur dan sejahtera serta perbedaan karakter antara satu daerah dengan daerah lain itu hendaknya dijadikan tonggak pemersatu wilayah NKRI.
Tujuan penulisan ini salah satunya yaitu menumbuhkan rasa konsolodasi para pemuda Indonesia untuk mempersatukan NKRI dari suatu perbedaan. Kami sebagai penulis memiliki gagasan yaitu menjadikan permaian tradisional sebagai sarana pembelajaran yang asyik dalam mengimplementasikan pancasila di era globalisasi, sehingga nantinya dapat menggugah kesadara generasi muda akan pentingnya hidup damai, harmonis, dan keberagaman sesuai dengan pandangan hidup dan ideologi bangsa yaitu pancasila.







PENDAHULUAN

Latar Belakang
   Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki keunikan antar satu daerah dengan daerah lainnya. Selain adanya suatu perbedaan karakter bangsa, juga dikenal dengan jumlah penduduknya yang sangat besar. Jumlah penduduk yang besar dapat membawa Indonesia menuju pembangunan nasional yang lebih baik. Jumlah penduduk yang besar pula seharusnya membuat kehidupan suatu negara menjadi makmur dan sejahtera. Namun hal itu, belum sepenuhnya terlaksana di Indonesia. Terbukti bahwa Negara Indonesia saat ini sedang dihadapkan dengan beberapa persoalan yang terjadi di dalam masyarakatnya. Masyarakat adalah mahkluk sosial yang yang selalu berinteraksi. Ada kalanya, dalam suatu interaksi tersebut seorang manusia dihadapkan dengan persoalan. Persoalan itu terjadi karena adanya konflik sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya persoalan itu muncul. Seperti yang sering kita ketahui dalam kehidupan saat ini, misalnya pertikaian antar pemuda Indonesia diantaraya pertikaian antar pelajar, penyiraman air keras oleh pelajar, tawuran antar pelajar, tawuran antar kampung, etnik agama, dan lain sebagainya. Persoalan-persoalan tersebut merupakan sesuatu yang miris, tragis dan menyedihkan bagi suatu negara, sehigga dapat mencoreng nama baik suatu bangsa. Persoalan tersebut terjadi biasanya karena peran pemuda yang kurang diarahkan dalam hal yang positif misalnya ikut serta dalam suatu organisasi seperti OSIS ditingkat sekolah.
Persoalan yang seperti itu hanya membuat Negara Indonesia menjadi tampak semakin buruk. Dan persoalan tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang terdapat dalam pancasila. Pancasila merupakan pandangan hidup bangsa, dasar negara Republik Indonesia, dan sebagai ideologi nasional. Seluruh warga Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah seharusnya mengetahui, mendalami dan mengembangkannya serta mengamalkan pancasila dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sesuai dengan kemampuan masing-masing individu. Yang paling penting kita sebagai warga negara Indonesia seharusnya bangga terhadap bangsa sendiri. Dengan merealisasikan sebuah teori atau pengertian dari pancasila tersebut. Sehingga adanya penerapan Pancasila oleh diri kita di dalam masyarakat, bangsa dan negara, kita dapat mengetahui hal–hal yang sebelumnya kita tidak tahu menjadi tahu.
Adapun salah satu faktor yang mempengaruhi kurangnya pengetahuan pemuda Indonesia akan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila yaitu pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu sarana atau tempat menyalurkan ilmu atau pengetahuan kepada pemuda indonesia. Nilai-nilai pancasila juga disisipkan dalam pendidikan dengan maksud pemuda Indonesia dapat mengetahui, mendalami dan mengembangkannya serta mengamalkan pancasila dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Namun saat ini, pendidikan saja tidaklah cukup karena perkembangan zaman yang semakin modern. Pemuda Indonesia semakin lupa akan nilai-nilai pancasila yang didapatkannya melalui program pendidikan. Hal ini dipengaruhi oleh semakin canggihnya barang-barang elektronik yang tersedia seperti Handphone, Laptop, Playstations dan lain sebagainya. Hal yang seperti itu dapat menyita banyak perhatian pemuda Indonesia sehingga lambat laun nilai-nilai pancasila akan memudar  dijiwa pemuda Indonesia.
Oleh karena itu, diperlukan suatu cara yang dianggap efektif untuk menyisipkan atau memasukkan nilai-nilai pancasila ke salah satu sarana yang ada, agar nilai-nilai pancasila tidak memudar dijiwa pemuda Indonesia. Dari uraian di atas memunculkan ide untuk membuat suatu karya tulis yang mencetuskan suatu gagasan tentang “Permainan Tradisional Indonesia sebagai Sarana Pembelajaran yang Asyik dan Ampuh Mendidik Generasi Muda Bangsa dengan Mengimplementasikan Pancasila di Era  Globalisasi”.


Tujuan Penulisan
a.       Memberdayakan sarana permainan yang asyik sebagai tempat pengenalan nilai-nilai pancasila kepada generasi muda penerus bangsa.
b.      Menumbukan rasa kerjasama, gotong royong, menghargai perbedaan dalam suatu permainan sehingga tercipta kondisi yang harmonis.
c.       Menumbuhkan nilai-nilai  pancasila kepada pemuda dalam memperkokoh NKRI.
d.      Melatih bertanggungjawab, kerjasama, dan kekompakan dalam menyelesaikan suatu persoalan sejak dini dengan adanya permainan tradisional.



GAGASAN

Globalisasi
Globalisasi adalah keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit. Globalisasi adalah suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara.
Globalisasi juga mempengaruhi para pemuda Indonesia mulai dari kebiasaan setiap hari hingga pola berfikir. Di dalam masyarakat pemuda merupakan satu identitas yang potensial sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insani bagi pembangunan bangsanya karena pemuda sebagai harapan bangsa dapat diartikan bahwa siapa yang menguasai pemuda akan menguasai masa depan. Pemuda merupakan generasi penerus. Pemuda selalu diidentikan dengan perubahan, karena banyak peran pemuda dalam membantu membangun bangsa ini, peran pemuda dalam menegakkan keadilan, dan peran pemuda yang menolak kekuasaan. Tetapi semangat pemuda sekarang sudah mulai redup, seolah dalam kacamata negara dan masyarakat seolah-olah atau kesannya pemuda sekarang malu untuk mewarisi semangat nasionalisime.
Hal itu dipengaruhi oleh Globalisasi yang penuh dengan tren.
Peranan pemuda dalam sosialisasi bermasyarakat sungguh menurun dratis. Pemuda sekarang lebih suka dengan kesenangan dan selalu bermain-main. Khususnya pemuda yang banyak dipengaruhi adalah kalangan para pelajar.
Pelajar merupakan harapan masa depan bangsa ini. Dimana masa depan bangsa ini ada ditangan mereka, karena mereka adalah generasi yang akan meneruskan perjuangan untuk bangsa ini. Kita tahu bahwa keadaan pelajar kita saat ini, terutama keadaan moral banyak sekali perilaku atau penyimpangan sosial yang dilakukan oleh pelajar. Mulai dari tawuran , pemerkosaan , narkoba, dan lain sebagainya. Bagaimana mau memimpin bangsa ini kalau moral mereka tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dijunjung oleh bangsa Indonesia yaitu pancasila.
Berdasarkan data dari BKKBN  tahun 2013, anak usia 10-14 tahun yang telah melakukan aktivitas seks bebas atau seks atau seks di luar nikah mencapai 4,38 dpersen, sedang pada usia 14-19 tahun sebanyak 41,8 persen telah melakukan aktivitas seks bebas.  Data lain mengatakan bahwa tidak kurang dari 700.000 siswi melakukan aborsi setiap tahunnya. Selain itu dikalangan pelajar narkoba cukup mengkhawatirkan yaitu sebanyak 921.695 orang (4,7 persen) pelajar dan mahasiswa adalah pengguna narkoba. Keadaan moral pelajar kita sekarang ini  sangat mengkhawatirkan. Sehingga untuk tahun ajaran baru yang akan datang pemerintah dapat melakukan evalusai terhadap bidang pendidikan kita. Masalah ini perlu ditangani dengan serius karena ini menyangkut dengan masa depan negara kita. (Kompasiana, 29 May 2013)
Hal yang seperti itu sangat memprihatinkan bagi bangsa Indonesia sendiri, karena di era Globalisasi inin tidak satupun nilai-nilai yang sering dijunjug tinggi oleh para pemuda Indonesia sebagai harapan penerus bangsa khususnya di kalangan para pelajar. Seakan-akan pendidikan saja tidak cukup untuk membekali mereka dengan nilai-nilai pancasila sebagai ideologi bangsa. Yang ada hanyalah persoalan yang terus berrmunculan di era Globalisasi ini seperti yang sering terjadi dikalangan para pelajar diantaranya kenakalan remaja. Sebenarnya kenakalan remaja itu timbul akibat dari ketidak mampuan anak dalam menghadapi tugas perkembangan remaja yang harus dipenuhi.http://geraldterryimanuel.wordpress.com/2012/06/30/aktualisasi-pancasila-dalam-menghadapi-era-globalisasi/
Menurut Hurlock (1973) ada beberapa masalah yang dialami remaja dalam memenuhi tugas-tugas tersebut, yaitu :
  1. Masalah pribadi, yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi dan kondisi di rumah, sekolah, kondisi fisik, penampilan, emosi, penyesuaian sosial, tugas dan nilai-nilai.
  2. Masalah khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalahpahaman atau penilaian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar dan lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orang tua.
Remaja masa kini banyak sekali tekanan-tekanan yang mereka dapatkan, mulai dari perkembangan fisiologi, ditambah dengan kondisi lingkungan dan sosial budaya serta perkembangan teknologi yang semakin pesat.Hal ini dapat mengakibatkan munculnya masalah-masalah psikologis berupa gangguan penyesuaian diri atau perilaku yang mengakibatkan bentuk penyimpangan perilaku yang disebut kenakalan remaja.
Adapun persoalan yang pernah  dihadapi oleh pemuda Indonesia adalah tawuran, konflik pemilihan kepala daerah dan konflik disebabkan suku agama dan ras (SARA). Teori yang bersangkutan dari keterngan diatas adalah sebagai beriku;

1.        Tawuran
Tawuran yang sering terjadi antar pelajar dapat dikaji dengan teori konflik. Teori milik Jurgen Habermas yaitu adanya penggunaan bahasa dalam komunikasi. Biasanya konflik tawuran terjadi karena adanya kesalahpahaman dalam penggunaan bahasa dalam komunikasi, sehingga timbul rasa tidak senang yang mengakibatkan konflik tawuran, yang memunculkan tindakan tidak bermoral.

2.      Konflik terorisme dan konflik SARA
Konflik ini dapat dikaji dengan teori konflik milik Lewis Coser, dimana konflik sosial menjadi fungsi untuk penguatan internal. Dimana konflik tersebut dapat menyebabkan adanya integrasi internal dalam sebuah kelompok. Teroris adalah kelompok yang menyebabkan disintegrasi secara eksternal. Namun, dalam kelompok teroris itu sendiri, mereka memiliki integrasi yang kuat, sehingga mampu melakukan bentuk terorisme yang menunjukkan keberadaan kelompok mereka. demikian juga dengan konflik SARA, konflik yang terjadi akibat perbedaa suku, agama maupun ras, biasanya membuat suatu kelompok menjadi lebih erat sehingga mampu membuat memunculkan kekuatan internal dalam sebuah kelompok. Teori Lewis Coser ini lebih menuju pada adanya fungsi dari konflik sosial itu sendiri.



Faktor-Faktor Penyebab Konflik Secara Umum :
  1. Perbedaan Individu
Merupakan perbedaan yang menyangkut perasaan, pendirian, pendapat atau ide yang berkaitan dengan harga diri, kebanggaan dan identitas seseorang. Perbedaan kebiasaan dan perasaan yang dapat menimbulkan kebencian dan amarah sebagai awal timbulnya konflik. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
  1. Perbedaan Latar Belakang Kebudayaan
Kepribadian seseorang dibentuk dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Tidak semua masyarakat memiliki nilai-nilai dan norma-norma sosial yang sama. Apa yang dianggap baik oleh suatu masyarakat belum tentu sama dengan apa yang dianggap baik oleh masyarakat. Misalnya orang jawa dengan orang papua yang memiliki budaya berbeda, jelas akan membedakan pola pikir dan kepribadian yang berbeda pula. Jika hal ini tak ada suatu hal yang dapat mempersatukan, akan berakibat timbulnya konflik.
  1. Perbedaan Kepentingan
Setiap individu atau keompok seringkali memiliki kepentingan yang berbeda dengan individu atau kelompok lainnya. semua itu bergantung dari kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Perbedaan kepentingan ini menyangkut kepentingan ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Misalnya seseorang pengusaha menghendaki adanya penghematan dalam biaya suatu produksi sehingga terpaksa harus melakukan rasionalisasi pegawai. Namun, para pegawai yang terkena rasionalisasi merasa hak-haknya diabaikan sehingga perbedaan kepentingan tersebut menimbulkan suatu konflik. Misalnya mengenai masalah pemanfaatan hutan. Para pecinta alam menganggap hutan sebagai bagian dari lingkungan hidup manusia dan habitat dari flora dan fauna. Sedangkan bagi para petani hutan dapat menghambat tumbuhnya  jumlah areal persawahan atau perkebunan. Bagi para pengusaha kayu tentu ini menjadi komoditas yang menguntungkan. Dari kasus ini ada pihak – pihak yang memiliki kepentingan yang saling bertentangan, sehingga dapat berakibat timbulnya konflik.
  1. Perubahan Sosial
Perubahan sosial dalam sebuah masyarakat yang terjadi terlalu cepat dapat mengganggu keseimbangan sistem nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Konflik dapat terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara harapan individu atau masyarakat dengan kenyataan sosial yang timbul akibat perubahan itu. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.(http://gudangilmusosiologi.blogspot.com/2012/10/konflik-dan-faktor-penyebab-konflik-di.html)


Solusi yang Pernah Dilakukan
1. Oleh Pemerintah
a.       Intervensi pihak ketiga
Intervensi pihak ketiga yang keputusannya mengikat para pihak yang terlibat konflik ketika kedua belah pihak yang sedang berkonflik tidak mampu menyelesaikan konflik mereka. Pihak ketiga bisa bersikap pasif menunggu datangnya pihak yang terlibat konflik untuk meminta bantuan. Di sisi lain pihak ketiga juga bisa bersikap aktif dengan membujuk kedua belah pihak untuk menyelesaikan konflik mereka.

b.      Mediasi
Mediasi adalah proses menyelesaikan suatu konflik melalui bantuan mediator. Mediator merupakan seseorang atau suatu tim yang melakukan intervensi konflik atas permintaan pihak-pihak yang terlibat konflik.

c.       Rekonsiliasi.
Rekonsiliasi adalah proses mengatasi konflik yang mentransformasi ke keadaan sebelum terjadinya konflik, yaitu keadaan kehidupan yang harmonis dan damai. Proses rekonsiliasi dibagi menjadi tiga tahap yaitu:
1) Pihak yang terlibat konflik-korban dan pelanggar memilih mediator yang dihormati kedua belah pihak.
2) Mediator bekerja untuk menciptakan situasi yang saling memaafkan dan menyelesaikan. Dalam proses ini, kehormatan dan martabat kedua belah pihak perlu dijunjung tinggi dan dipulihkan. Kedua belah pihak juga wajib menghormati masyarakat bahkan ketika terjadi kejahatan.
3) Ritual masyarakat dilakukan sehingga membawa masyarakat yang bersatu sebagai jaminan pemberian maaf.

d.      Menganut aturan agama
Islam banyak menggunakan cara-cara damai sebagai cara untuk mengelola konflik. Islam menganjurkan kepada pemeluknya untuk memiliki sikap toleransi terhadap perbedaan perbedaan yang dimiliki tiap-tiap manusia. Karena perbedaan itu merupakan kodrat Allah SWT yang tidak bisa ditolak. Perbedaan itu diciptakan untuk saling melengkapi, dan dengan perbedaan itu manusia akan terus berkembang dan menciptakan perubahan-perubahan yang nantinya akan bermanfaat bagi manusia pada umumnya.
 (Jakarta: Salemba Humanika, 2010, hlm. 184-186, 194-196, 199-212 )


2.    Oleh Pihak Sekolah
a.       Memberi hukuman bagi siswa yang melanggar aturan-aturan yang ada disekolah, agar menimbulkan efek jera pada siswa.
b.      Bekerjasama dengan pihak kepolisian, instansi terkait pemerintah daerah dan pihak swasta dalam penyuluhan kepemudaan.
c.       Membentuk bimbingan konseling (BK) untuk menampung dan mengatasi dengan cepat dalam mencari solusi dari persoalan-persoalan yang sedang dihadapi oleh seorang pelajar.




Gagasan Permainan Tradisional Indonesia
Indonesia adalah salah satu negara besar yang memiliki keunikan sendiri yang membuat Negara Indonesia berbeda dengan negara lain, salah satunya permainan tradisional. Indonesia memiliki permainan tradisional yang sangat beragam dan sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. Bermain merupakan aktivitas utama bagi anak-anak, kapanpun dan dimanapun mereka berada. Waktu yang dimiliki anak-anak selalu mereka gunakan untuk bermain, oleh karena itu bermain sering dikatakan sebagai dunia anak-anak. Melalui bermain, anak-anak dapat mengekspresikan apapun yang mereka inginkan (Purwanto, 2007). Selain itu bermain merupakan media untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan tertentu pada anak (Mariani, 2008). Bermain juga merupakan sesuatu yang menyenangkan dan mengasyikan sehingga tidak membosankan meskipun sudah dimainkan berkali-kali.
Pendidikan nilai-nilai pancasila melalui permainan tradisional dilakukan kepada generasi muda untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan patriotisme dalam kehidupan sehari-hari. Dalam permainan tradisional ini,  banyak pesan-pesan moral yang bisa didapatkan oleh generasi muda seperti melatih kerjasama, gotong royong sesama teman dan melatih kesabaran. Adapun hal-hal positif lainnya yang bisa didapatkan antara lain melatih ketangkasan, melatih berpikir kritis, bertanggung jawab, optimisme dan melatih kreatifitas diri. Dengan adanya pendidikan pancasila melalui permainan tradisional diharapkan dapat mencetak pemuda Indonesia yang memiliki jiwa pancasila dan mengamalkannya ke dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernegara. Selain bersifat interaktif dan edukatif  juga bersifat efektif karena penyampaian dalam permainan tradisisonal ini menggunakan bahasa komunikatif dan menggunakan bahasa anak muda yaitu “bahasa gaul” agar mudah dipahami.
Berdasarkan keterangan di atas dapat dikatakan bahwa bermain mempunyai manfaat yang cukup besar, terutama bagi perkembangan anak, seperti perkembangan emosi, fisik atau motorik, kognitif, serta perkembangan sosial. Semua manfaat yang disebutkan di atas dapat kita jumpai dalam segala macam permainan tradisional. Permainan tradisional merupakan alat bermain yang sudah ada sejak jaman dulu dan diwariskan secara turun temurun. Pada umumnya permainan tradisional merupakan bentuk kreativitas seseorang, karena permainan ini biasanya dibuat dengan memanfaatkan bahan yang ada di sekitar kita.
Berikut berbagai manfaat permainan tradisional beserta contoh permainan yang bisa dimainkan bersama anak Anda :
  • Mengembangkan kecerdasan intelektual
Contoh permainan : Gagarudaan/Abc ada Lima, Oray-Orayan/Ular-Ularan/Ular Naga
Permainan tersebut membutuhkan wawasan dan pengetahuan yang luas karena sebenarnya permainan ini merupakan permainan tebak kata.
  • Mengembangkan emosi antar personal
Contoh permainan : Bebentengan, Anjang-Anjangan/Rumah-Rumahan, Kasti
Permainan tersebut terdiri dari beberapa anak yang terbagi dalam dua tim berbeda yang dapat membantu mengasah emosi untuk saling menolong antar anggota tim
  • Mengembangkan kecerdasan logika
Contoh permainan : Congklak, Engklek/Gedrik, Bekel, Dam-Daman/Macan, Lompat Tali, Kelereng/Gundu, Gasing, Yoyo
Dalam permainan tersebut para pemain sebisa mungkin menyusun strategi untuk menentukan langkah yang tepat agar bisa mengalahkan lawan.
  • Mengembangkan kecerdasan kinestik
Contoh permainan : Galang asin/Gobak Sodor, Lompat Tali, Adang-Adangan, Egrang
Permainan tersebut mengharuskan anak untuk melompat, berlari, menari, berputar, dan gerakan lainnya. 
  • Mengembangkan kecerdasan natural
Contoh permainan : Masak-Masakan, Mobil-Mobilan dari Kulit Jeruk Bali, Encrak dari Batu, Egrang ari Bambu, Sepak Bola Takraw dari Rotan
Permainan ini banyak menggunakan alat yang berbahan dari alam, sehingga anak akan menyatu dengan alam dan sekitarnya.
·         Mengembangkan kecerdasan spasial
Contoh permainan : Anjang-Anjangan/Rumah-Rumahan
Permainan tersebut membutuhkan ruang atau tempat untuk bermain sehingga anak dapat mengenal konsep ruang. selain itu, anak juga dapat bermain teatrikal karena biasanya terdapat berbagai peran di dalamnya.
  • Mengembangkan kecerdasan musikal
Contoh permainan : Oray-Orayan/Ular Naga, Uncang-Uncang Angge/Ungkang-Ungkang, Ambil-Ambilan
Dalam permainan tersebut anak dapat bernyanyi, sehingga anak akan terlatih untuk bernyanyi tanpa nada yang sumbang
Jadi, sudah tentu tidak hanya permainan digital yang unggul, namun juga permainan tradisional yang kerap dilupakan justru mempunyai segudang manfaat bagi perkembangan anak Anda. Permainan tradisional membawa manfaat bagi anak anda.(http://eductory.com/stories/671)



Pihak yang Membantu Mengimplementasikan
      Dalam penerapannya kami sebagai penulis berharap diantu oleh Pemenrintah Daerah yang terkait, Dinas Pendidikan, Kantor Pemuda dan Tokoh masyarakat seperti tokoh agama. Serta semua element masyarakat bersama pemerintah dapat ikut serta mensukseskan penggalakan permainan tradisional sebagai sarana mengimplementasikan pancasila serta mendidik generasi muda bangsa untuk mengokohkan NKRI.



KESIMPULAN

Permainan Tradisional
Kegiatan mendidik generasi muda melalui permainan tradisional dengan tujuan untuk menumbuhkan kesadaran sejak dini akan pentingnya nilai-nilai pancasila dalam kehidupan berbangsa. Permainan tradisioanl ini diadakan dengan tidak mengubah struktur permainan itu sendiri hanya saja di dalam permaianan tradisional kita diajarkan nilai moral yang menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila. Sedangkan manfaat yang kita dapatkan bila melakukan permainan tradisional diantaranya anak menjadi lebih kreatif dan mandiri, melatih kerjasama, dapat mengembankan kecerdasan dan dapat melatih komunikasi antar sesama teman. Sehingga dapat bermanfaat bagi generasi muda dalam  keberanian mengungkapkan pendapat secara lisan, memupuk kerjasama antar pemuda, menunjukan sikap berani dalam memerankan tokoh yang diperankan dalam memainkan permainan tradisional, memberikan suatu tanggapan terhadap pelaksanaan jalannya permainan tradisional yang berlangsung, melatih cara berinteraksi dengan orang lain, pemuda tidak hanya mengerti persoalan-persoalan psikologis, tetapi mereka juga ikut merasakan perasaan dan pikiran orang lain bila berhubungan dengan sesama manusia. Ikut menangis bila sedih, rasa marah, emosi, dan gembira, siswa dapat menempatkan diri pada tempat orang lain dan memperdalam pengertian mereka tentang orang lain.


Teknik yang dilakukan
1.        Membuat perencaan
2.        Koordinasi dengan pihak yang terkait
3.        Menyusun teknik penyelenggaraan
4.        Mengkoordinasi kembali teknik penyelenggaraan
2.        Penyelenggaraan/ implementasi


Prediksi hasil yang akan diperoleh
1.        Meningkatkan rasa nasionalisme dan patriotisme dalam diri para generasi pemuda bangsa bahwa pancasila merupakan pemersatu bangsa sehingga timbulah kesadaran untuk menjaga NKRI.
2.        Menggugah kesadaran generasi muda akan pentingnya hidup damai, harmonis, dan keberagaman.
3.        Mampu berfikir kritis pada setiap persoalan yang sedang dihadapi dan bekerja sama untuk mencari solusi dalam pemecahan.
4.        Meyakini keberagaman dan keunikan Indonesia sehingga dapat menyatukan suatu perbedaan melalui musyawarah untuk mencapai keputusan mufakat.
5.        Mengembangkan potensi dan bakatnya sehingga dapat berkarya demi kemajuan bangsa.







DAFTAR PUSTAKA





Jakarta: Salemba Humanika, 2010, hlm. 184-186, 194-196, 199-212



















BIODATA


Nama peserta                                      : Saturi                                   
Tempat, tanggal lahir                          : Probolinggo, 14 Februari 1996
Jenis Kelamin                                      : Laki0laki                                          
Nama Sekolah                                     : SMA Negeri 1 Gending                         
Kelas                                                   : XI_IPA 1
No. Induk Siswa                                 : 5943              
Alamat Sekolah                                   : Jalan Raya Sebaung Nomor 4              
No. Telepon Sekolah                           : 0335-611273                       
Alamat Rumah                                   : Tarokan Kidul, RT:02/RW:02 Kecamatan  Banyuanyar Kabupaten Probolinggo.

Karya ilmiah yang pernah dibuat       : Permainan Tradisional Indonesia sebagai Sarana Pembelajaran yang Asyik dan Ampuh Mendidik Generasi Muda Bangsa dengan Mengimplementasikan Pancasila di Era  Globalisasi.

Selfi ala PEKA POLIJE 2015 :)